Semua akan pergi

Uncategorized

Semua tidak sama lagi semenjak satu persatu pergi.
Semuanya berubah.
Tidak ada lagi orang-orang yang ada dalam masa kecilku, aku tidak menjumpai mereka lagi.

Saat aku kecil dan remaja, mereka ada di sekitraku.
Saat aku beranjak dewasa, mereka pergi satu per satu.

Baru saja rasanya kemarin aku berbicara dengan mereka.
Bahkan teringat jelas apa yang terjadi saat itu.
Namun kini aku mendapatinya telah tiada.

Betapa hidup itu singkat, kematian adalah suatu misteri.
Kelak aku juga akan pergi, menghadap Dia, Penciptaku.
Cepat atau lambat, aku akan ke tempat yang mereka tuju.

2017, March 7
12.51 a.m.

IMG_17950037822263

Ompung Datok :’)

Advertisements

HUJAN

Give Thanks, Love, Uncategorized

Hari ini hujan begitu deras di Dramaga. Petir pun tak kalah ingin bersahut-sahutan di tengah riak air. Aku berjalan menyusuri aspal tanpa menghiraukan gempitanya menghantam atap rumah dan atap payungku.

Ternyata hari ini adalah hari wisuda Diploma IPB, seperti biasa banyak orang yang berdagang bunga. Dan aku pun baru menyadari bahwa wisuda kali ini diselenggarakan pada hari Selasa. Mengingat momen wisuda saat aku S1 dulu, hujan deras turun sesaat sebelum prosesi selesai. Sepengalaman saya selama beberapa kali menghadiri wisuda kakak tingkat dalam 5 tahun, tidak pernah hujan turun tepat saat acara foto-foto setelah kuncir dipindahkan.

Agak berbeda dari momen wisuda sebelumnya, bunga-bunga dagangan mereka banyak yang tersisa.Hujan yang turun sebelum pukul dua membuat mereka tidak bisa pulang ke rumah. Bahkan saya mendapati mereka tidur beralaskan sebuah kantong plastik di jalan yang biasa dilalui mahasiswa, di bangunan kampus, menunggu hujan reda pikirku. Aku sangat terharu melihat perjuangan mereka, mereka pastilah seorang ibu dari anak-anak yang dinafkahi.

Aku suka hujan.

Karena hujan, pinggiran toko dipenuhi orang-orang. Karena hujan semuanya menjadi basah. Karena hujan, ayam yang berkeliaran menjadi terlihat lucu karena bulu mereka akan menjadi terlihat layu. Karena hujan, orang-orang menjadi kedinginan, lapar dan jualan pedagang gorengan, soto, bakso dan lainnya menjadi laris manis (beberapa minggu yang lalu, kami membeli gorengan di pinggir jalan karena terjebak macet dan hujan saat di Bandung). Karena hujan, pedagang bunga bersatu dengan pengunjung wisuda  dan karena hujan aku menjadi sedikit melankolis dan dapat membuat tulisan ini. Terimakasih hujan. Terimakasih Sang Pencipta hujan.

November (Rain) 8th, 2016

img-20160814-wa0024

Bersama teman di waktu hujan~

Advent (II)

Uncategorized

A: “Selamat Advent!”
Z: “Selamat Advent!”
A: “Kalau dikatakan “Selamat Advent!”, dijawabnya Maranatha, Maranatha, Maranatha!”
“Selamat Advent!”
Z: “Maranatha, Maranatha, Maranatha!”

 Jika ASM ditanya apa yang akan dilakukan untuk menyambut kedatangan Yesus, mungkin beberapa dari mereka menjawab beli baju baru, beli sepatu baru supaya nanti cantik dilihat Tuhan Yesus.

Jika orang dewasa ditanya apa yang akan dilakukan menjelang Natal, mungkin akan ada yang menjawab mengecat rumah, memasak makanan yang enak, menyiapkan kue, dll. Hal yang dilakukan adalah supaya rumah terlihat lebih baik dan orang yang bertamu ke kita puas akan pelayanan kita.

Kedua hal tersebut di atas, yang dijawab ASM dan orang dewasa tidak sepenuhnya salah. Pada dasarnya kita harus bisa menata diri untuk menyambut Yesus. Hati, pikiran dan jiwa kita persiapkan untuk kedatangan-Nya.

Apa yang diminta Yesus ada dua (2) hal, yaitu:

1. Ucapan syukur
Kita sering mendengar, bahwa orang yang mengucap syukur terlihat dari wajahnya yang bersinar sekalipun ia memiliki banyak beban. Walaupun lapar, tak sempat makan karena harus ibadah pagi, ia tidak menjadi orang yang mudah mengamuk. Walaupun gaji kecil atau bahkan belum gajian, dia tidak mengeluh, apalagi mencuri. Dengan mengucap syukur baik atau tidak baik keadaan kita menunjukkan ketetapan hati (iman) kepada Tuhan.

2. Bersukacita karena Tuhan
Kematian/maut/kiamat/akhir zaman tidak lantas membuat kita takut dan gentar. Akhir hidup kita adalah awal dari sebuah penantian panjang hidup ini. Dengan keberadaan hidup kita sebagai orang tebusan, kita bagikan Kabar Baik ini kepada semua orang. Perlu latihan agar kita tidak hanya “menikmati” Keselamatan sendirian. Latihlah diri kita dengan latihan rohani, Firman Tuhan, mencintai Firman itu sendiri.

Advent adalah sebuah penantian. Jika kita menanti, pasti ada sesuatu yang kita ingini. Ada sebuah janji. Kita tak ingin berlama-lama saat menanti sesuatu, apalagi sesuatu hal tersebut baik bagi kita. Penantian akan sesuatu hal yang kita dambakan membuat kita tidak lelah menanti.

Jadi, sebagaimana harapan Yesus bagi kita, yang diminta bukanlah hal-hal lahiriah, namun lebih kepada batiniah kita. Hal-hal lahiriah memang perlu, namun terlebih perlu lagi adalah yang batiniah.

 CATATAN:
Kedatangan-Nya kedua kali bukanlah sebagai JURUSELAMAT, namun sebagai HAKIM.
Bagikan tentang kasih-Nya. Persiapkan diri kita. Biarkan kita didapati-Nya setia.
Nantikan Dia dengan sukacita, hingga tiba waktunya kita bertemu di awan kemulian-Nya.

Dia telah berjanji.
Maranatha, Tuhan datang!

Filipi 1:
(3) Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

(4) Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.(6) Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
(9) Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

(10) sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

 *Dalam Alkitab sukacita lebih dari sekadar emosi. Sukacita adalah perasaan bahagia bercampur perasaan diberkati.

Dalam PL ditandai dengan kegembiraan luar biasa pada saat-saat perayaan dan dengan perasaan lega ketika seseorang dapat membawa keluh-kesahnya ke Bait Allah untuk mendapatkan penyelesaian.
Dalam PB nada kesukacitaan sangat menonjol pada Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Kesukacitaan merupakan karunia Roh yang khas.


Renungan Minggu Advent II (Pdt. S. J. Simanjuntak)

 December 7th, 2015
6.45 pm

altar-hkbp-serpong-adven-kedua-12
Sumber: rumametmet.com

Tes Kepribadian

Uncategorized
Tipe Realis Sosial adalah orang-orang populer yang penuh energi. Mereka dapat diandalkan, terorganisir dengan baik, dan senang menolong. Nilai-nilai tradisional penting bagi mereka. Pembentukan keluarga juga memegang peran utama dalam kehidupan mereka. Tipe Realis Sosial memiliki sifat sosial yang menonjol. Mereka selalu siap mendengarkan kegelisahan dan masalah orang lain dan tidak pikir panjang ketika dimintai bantuan. Dengan empati dan pengertian, mereka dapat merasakan apa yang dibutuhkan orang lain. Tipe Realis Sosial selalu bersedia menghargai sifat-sifat baik orang lain dan memaafkan kelemahan orang itu. Mereka yang paling mudah bergaul dari seluruh tipe kepribadian. Kontak sosial sangat penting bagi mereka.
Tipe Realis Sosial sangat sulit menerima konflik dan kritik – keharmonisan adalah ramuan mujarab bagi hidup mereka. Pengakuan dan harga diri sangat penting bagi tipe ini. Di sisi lain, diferensiasi bukan salah satu kekuatan mereka. Dalam pekerjaan dan kemitraan, mereka setia, berkomitmen, dan selalu siap jika dibutuhkan. Mereka mudah berteman karena keterbukaan dan kehangatan mereka, dan mereka memiliki lingkaran besar pertemanan. Dalam asmara, mereka bisa dipercaya, penuh perhatian, dan menyayangi pasangan mereka dengan imajinasi dan kepekaan besar. Tipe Realis Sosial menunjukkan perasaan mereka dengan terbuka dan jujur. Jika hubungan mereka putus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Itulah sebabnya mereka sulit mengakhiri hubungan sekalipun hubungan itu sudah tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka.
Tipe Realis Sosial adalah tipe yang lebih konservatif. Mereka memiliki tata nilai dan aturan yang kaku yang berorientasi pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mereka lebih menyukai lingkungan dan proses kerja yang jelas dan terstruktur; mereka tidak menyukai terlalu banyak perubahan dan gejolak. Kekuatan mereka terletak pada diri mereka yang teliti dan dapat diandalkan dan bukan pada keluwesan dan spontanitas mereka. Tipe Realis Sosial hanya terbuka hingga batas tertentu terhadap hal-hal baru. Namun, jika Anda mencari orang untuk menyelesaikan tugas dengan dapat diandalkan dan tepat, merekalah orangnya.

Try your personality test here –> http://www.ipersonic.net/id/7.html

The Heirs

Uncategorized

Awalnya “Heirs” hanya untuk membuang kepenatan di sela-sela pekerjaan. Tak lama melihatnya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku mengawalinya di cerita ke-15, tapi setelah mendapatkan serinya dengan lengkap, aku mundur ke awal sekali.

“Roma” mematrikan sebuah tulisan yang tak bisa kulupakan bahwa apapun tak akan bisa memisahkan aku dari sebuah kasih seorang Pribadi. Hari ini tepat hari berkumpul setiap minggunya. Dalam tuntunan dan “bincang2” yang disampaikan, aku mendengar bahwa semuanya yang terjadi adalah BIASA!! Tak ada yang luar biasa…

Aku mengiyakan hal itu. Saat mataku masih tertutup aku mendengar sesuatu berbisik dalam hatiku, menuntunku ke “Roma” yang tak kulupakan itu-semuanya terlalu biasa hingga itu semua tak mampu membuat aku dan Dia terpisah… Hanya Kasih saja yang luar biasa, sehingga hanya itu yang dapat membuat kami tak terpisahkan.

Kembali ke awal cerita…
Masih dalam cerita panjang dengan mata tertutup, aku teringat sosok ibu, mama(k), bunda, uni, mother… Di “Heirs” aku menemukan pernyataan yang (mungkin) tak akan salah bahwa sosok yang kusebutkan di atas adalah kata yang paling indah di dunia dalam bahasa internasional yang pertama kali kukenal.

Aku lupa kapan terakhir kali menyebutkan kata itu, namun aku juga tak pernah lupa kapan terkahir kali menyebutkannya.
Mungkin aku terdengar begitu galau aneh. Melakukan dua hal yang bertolak belakang bersamaan.
Aku mengatakan lupa kapan terakhir kali menyebutkannya karena tidak setiap hari aku menyebut namanya, bahkan dalam doa, aku lupa kapan…
Aku mengatakan tak pernah lupa kapan karena saat aku memanggil nama itu, aku mengalami ujian yang sangat berat bagi seorang anak berusia dua tahun yang sedang sakit dan hanya ingin berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya padaku. Aku mendapat boneka “monkey”, boneka pertama dalam hidupku, kuperoleh saat aku sakit. Aku masih bisa mengingat saat itu aku mendapatkan pukulan yang tak mampu ditampung oleh hatiku yang berukuran tak seberapa.
Sejak saat itu aku takut menyebutkan kata itu lagi. Aku hanya ingin berterima kasih pada orang yang tak seharusnya menyayangiku namun yang telah melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan..memberikan curahan kasih sayang. Karena rasa terima kasihku itu aku harus mendapatkan pukulan dari orang yang seharusnya mendapat kasih sayang itu. Aku tahu bahwa dia sudah mendapatkan segalanya, tapi dia tidak mengerti bahwa aku hanya mendapatkan hal seperti ini hanya sekali.

Apa yang pernah kudapatkan “sekali” itu lah yang membawaku pulang kembali untuk melakukan hal yang sama berkali-kali… Dia pantas mendapatkannya. Hatiku begitu tak tahan untuk melihatnya berbaring terlalu lama. Aku bahkan tak pulang ke rumahku sendiri hanya untuk menemaninya di rumah sakit daam waktu dua hari yang kupunyai, seutuhnya… Aku selalu datang dengan berat hati, namun aku pulang dengan sukacita yang tak terkatakan, namun hal itu berarti kesedihan yang dalam buatnya. Setiap kali kami memiliki kesempatan bercerita melalui ponsel, tak pernah dia tidak terbata-bata dalam berbahasa…

Terima kasih bagiMu yang memberikan sesuatu yang “LUAR BIASA” bagiku…

Terima kasih padaMu yang memilihku untuk tak akan terpisahkan…

Terima kasih bahwa itu semua nyata adanya…

The Heirs

Boneka Pertama, Cinta, Give Thanks, Heirs, http://schemas.google.com/blogger/2008/kind#post, Ibu, Kasih, Kesempatan, Love, Mama, Roma, Sharing
Awalnya “Heirs” hanya untuk membuang kepenatan di sela-sela pekerjaan. Tak lama melihatnya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku mengawalinya di cerita ke-15, tapi setelah mendapatkan serinya dengan lengkap, aku mundur ke awal sekali.
“Roma” mematrikan sebuah tulisan yang tak bisa kulupakan bahwa apapun tak akan bisa memisahkan aku dari sebuah kasih seorang Pribadi. Hari ini tepat hari berkumpul setiap minggunya. Dalam tuntunan dan “bincang2” yang disampaikan, aku mendengar bahwa semuanya yang terjadi adalah BIASA!! Tak ada yang luar biasa…
Aku mengiyakan hal itu. Saat mataku masih tertutup aku mendengar sesuatu berbisik dalam hatiku, menuntunku ke “Roma” yang tak kulupakan itu-semuanya terlalu biasa hingga itu semua tak mampu membuat aku dan Dia terpisah… Hanya Kasih saja yang luar biasa, sehingga hanya itu yang dapat membuat kami tak terpisahkan.
Kembali ke awal cerita…
Masih dalam cerita panjang dengan mata tertutup, aku teringat sosok ibu, mama(k), bunda, uni, mother… Di “Heirs” aku menemukan pernyataan yang (mungkin) tak akan salah bahwa sosok yang kusebutkan di atas adalah kata yang paling indah di dunia dalam bahasa internasional yang pertama kali kukenal.
Aku lupa kapan terakhir kali menyebutkan kata itu, namun aku juga tak pernah lupa kapan terkahir kali menyebutkannya.
Mungkin aku terdengar begitu galau aneh. Melakukan dua hal yang bertolak belakang bersamaan.
Aku mengatakan lupa kapan terakhir kali menyebutkannya karena tidak setiap hari aku menyebut namanya, bahkan dalam doa, aku lupa kapan…
Aku mengatakan tak pernah lupa kapan karena saat aku memanggil nama itu, aku mengalami ujian yang sangat berat bagi seorang anak berusia dua tahun yang sedang sakit dan hanya ingin berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya padaku. Aku mendapat boneka “monkey”, boneka pertama dalam hidupku, kuperoleh saat aku sakit. Aku masih bisa mengingat saat itu aku mendapatkan pukulan yang tak mampu ditampung oleh hatiku yang berukuran tak seberapa.
Sejak saat itu aku takut menyebutkan kata itu lagi. Aku hanya ingin berterima kasih pada orang yang tak seharusnya menyayangiku namun yang telah melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan..memberikan curahan kasih sayang. Karena rasa terima kasihku itu aku harus mendapatkan pukulan dari orang yang seharusnya mendapat kasih sayang itu. Aku tahu bahwa dia sudah mendapatkan segalanya, tapi dia tidak mengerti bahwa aku hanya mendapatkan hal seperti ini hanya sekali.
Apa yang pernah kudapatkan “sekali” itu lah yang membawaku pulang kembali untuk melakukan hal yang sama berkali-kali… Dia pantas mendapatkannya. Hatiku begitu tak tahan untuk melihatnya berbaring terlalu lama. Aku bahkan tak pulang ke rumahku sendiri hanya untuk menemaninya di rumah sakit daam waktu dua hari yang kupunyai, seutuhnya… Aku selalu datang dengan berat hati, namun aku pulang dengan sukacita yang tak terkatakan, namun hal itu berarti kesedihan yang dalam buatnya. Setiap kali kami memiliki kesempatan bercerita melalui ponsel, tak pernah dia tidak terbata-bata dalam berbahasa…
Terima kasih bagiMu yang memberikan sesuatu yang “LUAR BIASA” bagiku…
Terima kasih padaMu yang memilihku untuk tak akan terpisahkan…
Terima kasih bahwa itu semua nyata adanya…
Love makes life
 May 6th, 2015

Kesempurnaan

http://schemas.google.com/blogger/2008/kind#post, KBBI, Sempurna
05.38 p.m.
Menurut KBBI, definisi sempurna adalah:
1 utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela)
2 lengkap; komplet
3 selesai dng sebaik-baiknya; teratur dng sangat baiknya
4 baik sekali; terbaik
Menurut THESAURUS, definisi sempurna adalah
1 afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama
2 beres, selesai, tuntas;
Menurut Kamus Seasite, definisi sempurna adalah tidak cacat; utuh; lengkap; komplit.
Itu jugalah definisi sempurna yang kuketahui dan kuyakini…
Aku menyadari setelah sekian lama hidup di dalam pembelajaran dan kenyataan, selaiknya di sekolah ada teori, maka ada pula praktik, HIDUPku ini sungguhlah suatu kesempurnaan.
Dulu aku menganggap bahwa apa yang kujumpai tidak pernah menyandang gelar sempurna.
 Yang sempurna hanyalah TUHAN. Demikian.
Tidak ada yang salah. Nyata benar bahwa Dia sempurna adanya.
Namun kini, mataku telah terbuka dengan sebuah pengertian yang baru, bahwa setiap yang kujumpai memiliki kesempurnaannya sendiri.
Suatu keluarga dengan tanpa ibu atau ayah atau kakak atau adik, bukanlah suatu kesempurnaan.
Hidup dalam kekurangan pun bukan kesempurnaan.
Tinggal dengan harus “menumpang” di rumah keluarga yang lain tak dapat dikatakan sempurna.
Memiliki nilai indeks prestasi kurang dari 4 juga tidak sempurna.
Banyak hal-hal yang senantiasa kujumpai dan kusematkan dengan kata “tidak sempurna”.
Ada sesuatu yang selama ini menghalangi pandanganku dari sebuah kata sempurna yang dimiliki oleh apa yang aku alami sendiri.
Bukan dengan mata, tapi dengan hati pula seharusnya aku melihat.
Kenapa aku harus iri, kenapa aku harus marah, dan kenapa aku harus tak mengakui bahwa banyak peristiwa dan hal-hal tertentu bukanlah kepunyaanku?!
Aku harusnya berpikir bahwa tidak semua peristiwa dan hal-hal tertentu yang kualami, mereka juga alami. Kenapa mereka harus iri, marah atau tak mengakui?!
Di sanalah letak kesempurnaan itu. Dia begitu sempurna memilihku untuk tidak hidup dengan “kesempurnaan” (yang kukenal dulu). Menetapkanku untuk tidak pernah melihat ibu kandungku hingga aku mungkin usia 30. Menempatkanku di tengah-tengah tempat yang terasa asing bagiku. Membiarkanku mengalami jatuh cinta pada pria yang tak pernah mencintaiku. Melepaskan seluruh dambaanku akan kasih sayang ibu. Menahan hasrat akan cita-cita besarku.
Semuanya digantikan, digantikan dengan sesuatu yang tak dinyana olehku.
Dia begitu sempurna memilihku mengenalMu. Dan sangat paripurna apa yang telah dikerjakan bagiku. Memiliki Dia saja sempurna bagiku. Dengan seluruh cinta, cipta, rasa, karsa aku bisa menjalani hidup bersama siapa saja, memiliki apa saja, melepaskan apapun, meninggalkan sesuatu, dan mengalami semua yang Dia kehendaki bagiku.
Betapa sempurnanya aku di saat aku ketahui bahwa tanpa ibu pun aku mendapat kasih sayang (mungkin) dari 2 paman dan atau 3 bibi sekaligus. Sangat sederhana, namun butuh waktu yang lama bagiku untuk memahami dan menyadari kedalaman pekerjaanNya.
Yang kumaksud disini adalah PEKRJAAN-NYA yang telah dan akan dilakukan bagiku dan bagimu.
Sebenarnya masih banyak hal yang tidak sempurna.
Bapa itu sempurna dan kita diminta HARUS sempurna sepertiNya. Sulit, tapi Dia bilang harus!!!
Jika kita hendak sempurna, Dia menyuruh kita menjual segala milik kita dan MEMBERIkan kepada orang miskin, dengan demikian beroleh harta di sorga. Tak gampang melakukannya dengan sifat kemanusiaan kita yang terbatas ini.
Sebuah kesempurnaan bisa berubah menjadi ketidaksempurnaan jika dan hanya jika aku tidak memiliki KASIH. Bahkan aku tak akan menjadi berguna.
Segala pengetahuan dan nubuat yang ada padaku tidaklah sempurna. Hal inilah yang sedang terjadi, bahwa aku terlambat menyadari tentang “kesempurnaan” itu sendiri. Bahkan nubuat (visi) yang kubuat tidak rampung. Sudah barang tentu rumpang. Tidak sempurna.
Pengenalanku akan Pribadi yang sempurna belumlah sempurna. Aku tidak khawatir akan hal ini karena NANTI aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Ketaatanku belum sempurna. Sangat jelas aku rasa.
Aku sendiri masih didoakan supaya aku menjadi sempurna.
Diriku belum sempurna. Aku diminta untuk mengusahakannya.
Ketekunanku pun demikian.
Bahkan dikatakan tidak satupun dari pekerjaanku yang didapatiNya sempurna di hadapanNya.
Jika ditelisik lebih dalam, pekerjaanNya lah yang sempurna dan pekerjaanku yang tidak sempurna. Tidak boleh lagi ada bantahan. Titik. Final.
Dengan kesempurnaan jalan-Nya dan kemurnian janji-Nya aku telah memperoleh apa yang dikatakan bahwa “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (1 Kor 13:10)”
Amin.
March 19th, 2015 

Mimpi

Give Thanks, Love
4.46 a.m.
Setelah semalam aku mengalami mimpi yang sangat aneh, hari ini aku mengalami mimpi yang sangat indah.
Aku bertanya-tanya tentang arti mimpi itu. Sangkaku, mungkin aku terlalu rindu atau mungkin dia yang terlalu memikirkanku.
Yang pasti apa yang kualami benar-benar membuatku takjub.
Saat aku tak tau ke mana hatiku akan pergi…ke mana cintaku akan berlabuh…yang ‘ku tau hanyalah Engkau masih saja di dekatku, memastikan bahwa perginya hati dan cintaku tepat kepada siapa yang Kau mau.
Aku bergumam, “Tuhan, akankah mimpi itu berubah menjadi nyata?”
Aku mau dan sangat ingin itu terjadi di kehidupanku yang akan datang.
Sampai kini aku bisa merasakan betapa bahagianya aku saat itu.
Aku bisa menyenangkannya, membawanya ke tempat yang dia belum pernah datangi, menyajikan apa yang belum pernah ia cicipi, memberikan apa yang dia ingini, bahkan mengetahui perasaannya…
Dia juga melakukan hal yang sangat manis kepadaku. Mendekapku hangat, memegang tanganku erat, menghalau saat hewan yang kubenci mendekat, semua adalah hal-hal yang kecil, namun apa yang dia lakukan itu juga belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sampai akhirnya kami tiba di suatu tempat, di mana kami duduk berdua dan aku berkata padanya “Kita akan pergi ke kota Z suatu hari nanti”. Entah apa yang terlintas di pikiran kami…kami menangis, aku menangis dalam pelukannya.
Tangisanku adalah tangisan bahagia (hanya sesaat) dan selebihnya adalah tangisan perpisahan.
Sampai saat hingga aku berusaha mengingat-tanpa membumbui cerita ini, bahkan menuliskannya, yang tersisa dari semuanya adalah air mata…
Aku tau, sebenarnya akulah yang sangat merindu…
Hanya bertelut, dan membawa namanya dalam doa yang aku bisa…

March 10th, 2015

"Siapa?" bukan "Mengapa"

Uncategorized
07.08 a.m.

“Siapa?” bukan “Mengapa” adalah sebuah judul artikel sederhana yang mengubah cara pandangku hari ini. Kerap sekali setiap orangyang dirundung dalam sebuah pergumulan menyanyakan “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Mengapa harus aku yang mengalami?”, “Mengapa ini…” dan “Mengapa itu….”
Kata tanya ini merupakan kata yang sama sekali kusukai dan sering kulontarkan ketika aku dirundung pergumulan. Ya, kata ini begitu fasih di bibir dan terkesan memiliki pertanyaan dan jawaban yang sama dramatisnya dengan permasalahan kita.
Namun hari ini aku mendapatkan sebuah pemahaman baru, tidak lagi bertanya”Mengapa?” melainkan “Siapa?”
Melalui kata “Siapa?” ini aku menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan“Mengapa?”ku bahkan aku juga mendapati ada sebuah jawaban yang tidak pernah memiliki pertanyaan. Hal ini tidak dikarenakan akibat kosongnya atau tidak ada pertanyaan sama sekali, melainkan karena saking sukarnya jawaban atas pertanyaan itu sehingga dia tidak digolongkan sebagai sebuah pertanyaan (Apakah mungkin ada pertanyaan semacam itu? Entahlah.)
Hal pasti yang kualami, saat aku mengalami sebuah galian tekanan akibat masa lalu suram yang telah terkubur dalam dan bertanya “Siapa?” aku mengerti bahwa Dia adalah Pribadi yang berdaulat atas masa lalu, masa kini dan masa depanku. Saat aku lemah-tak berdaya menghadapi setiap cemooh dan tak tahu harus berbuat apa lagi, aku tahu bahwa Dia satu-satunya sumber kekuatan dan penyembuh batinku. Bahkan saat aku kehilangan pengharapan, aku tersandung oleh “Siapa?”, yaitu Dia yang menjadi sauhku.

November 24th, 2014