Esai dadakan….

Essay

Menjadi Pribadi yang Berani Memberi

Seruan pembangunan untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh masih segar di ingatan saya. Hal itu diucapkan oleh guru saya sewaktu duduk di sekolah dasar sekitar lima belas tahun yang silam. Banyak rangkaian sejarah yang telah ditorehkan para pejuang kita hingga akhirnya udara kemerdekaan dapat kita hirup. Perjuangan yang berat menjadi beban di pundak mereka. Kaum laki-laki pribumi pada masa itu harus siap menanti kematian kapan saja, bahkan untuk hidup saja harus dihantui oleh ketakutan. Namun Yang Mahakuasa masih berpihak pada kita dan dengan sedikit usaha dari orang-orang yang menaruh hati kepada bangsa ini kita merdeka. Benar bahwa kemerdekaan bangsa ini dicapai dengan banyak pengorbanan, mulai dari harta, waktu, tenaga, pikiran, sampai nyawa. Tetapi jika dibandingkan dengan karunia-Nya, hal inilah yang membuat saya bersyukur. Dari semula kita memang telah ditetapkan untuk menjalani semua ini. Apa yang kita dapat sekarang hanyalah anugerah semata. Semua orang-orang yang berkontribusi besar dalam kemerdekaan juga telah dipilih untuk diteladani. Kesehatian telah menyatukan bangsa ini dari berbagai tempat. Itupun terjadi atas ijin-Nya.

Bagi kita manusia tidak ada jalan untuk menjadi orang yang berbudi dan berbudaya selain jalan berolah pikir dan berolah rasa. Sesuatu yang berharga yang tidak akan pernah hilang dari seseorang, kecuali orang tersebut meninggal, adalah budi pekerti yang dimiliki. Kata sederhana tersebut sangat sering kita dengar sewaktu belajar pendidikan kewarganegaraan. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa pekerti yang tidak baik juga akan dikenang oleh orang lain. Perlu diingat yang kita kenang bukanlah yang buruk itu, tetapi imbasnya bagi diri sendiri dan lingkungan kita jika kita berbuat hal serupa. Karakter budi pekerti yang baik telah ditunjukkan oleh pemimpin bangsa ini. Setelah lebih dari sembilan kali pergantian kepala negara, bukan tidak ada kemajuan yang kita rasakan. Dari hal itupun kita bisa petik apa yang bermanfaat. Sesuatu yang berharga telah dipersembahkan untuk negeri ini. Tidak mudah untuk memimpin sesuatu yang banyak maunya, yang banyak tingkahnya, dan yang banyak masalahnya. Kembali tanyakan apa yang telah kita perbuat bagi bangsa ini sebagai koreksi diri.

Nasionalisme bagi saya sangat penting, mengingat saya merupakan bagian dari suatu bangsa yang memiliki kemajemukan. Keanekaragaman budaya bangsa Indonesia dapat dirusak dalam seketika oleh oknum-oknum yang mempunyai kepentingan tertentu. Namun beruntung, masyarakat kita tidak mudah dipecah-belah dalam masalah yang demikian. Ancaman dari luar dan dalam negeri terbukti berkali-kali nyaris merenggut keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Banyaknya pengklaiman budaya dan wilayah Indonesia oleh pihak asing turut memperkeruh sekaligus menjebak. Tetapi rasa saling memiliki justru menjadi pengikat dengan adanya masalah maka kita akan semakin kuat dan waspada. Itulah bukti kita hidup. Walaupun demikian, budaya kita masih terobsesi dengan kecantikan luar. Kita tidak seharusnya seperti itu. Kehidupan yang seimbang seharusnya yang menjadi tujuan utama kita. Kehidupan yang seimbang haruslah dibangun dalam fisik yang baik dan terutama hidup dengan penuh sukacita. Inilah hidup.
Nasionalisme membutuhkan jiwa-jiwa yang rindu kebenaran. Tidak peduli betapapun banyaknya orang-orang di luar sana yang lebih mencintai kejahatan, kita harus bisa tetap menjaga integritas. Dalam bentuk hubungan seperti apapun dan dijalin dengan siapapun, perlu ada kejujuran dan apa adanya. Persahabatan sejati tidak bisa dibangun di atas kepalsuan. Kita harus menjadi diri sendiri, apa adanya. Diri yang tanpa cela, kokoh di hadapan dunia, tapi untuk apa? Kita hanya perlu memberikan yang terbaik dan membiarkan orang lain mengenal kita apa adanya. Melalui budaya, Indonesia dapat dibangun kebanggaan dan keteguhannya lewat kejujuran. Jangan takut untuk membeberkan kejujuran, sekalipun terlihat aneh bagi orang lain. Perlu langkah berani! Tentu saja terbuka dan jujur bukan berarti mengumbar kelemahan diri kepada semua orang, tetapi lebih kepada sikap berani menunjukkan identitas diri kita yang memang berbeda dari bangsa lain. Karena Tuhan menciptakan manusia sebagai karya dahsyat yang paling unik. Sebab itu generasi yang beruntung, jujurlah pada kelelahanmu, mengenakan topeng berat yang menutupi wajah yang dirasa makin berat. Jadilah apa adanya. Jangan paksa membeli tawaran dengan gambaran luarnya, tapi nilai diri yang positif lebih bisa mengikat sebuah hubungan apapun. Sebab memang kita tidak sempurna, tapi terang kita bercahaya di kegelapan dunia. Kita ada dalam kompetisi dunia ini untuk menjaring jiwa yang haus akan kebenaran. Adalah hal yang penting kalau kita mau terlibat secara aktif sebagai perintis.

Dalam pandangan saya, letak pentingnya nasionalisme adalah pada semangat yang terkandung di dalamnya, bukan sebatas wacana paham. Nasionalisme dapat sebagai bambu runcing yang memagari tanah air kita. Segala sesuatu yang hendak memasuki kehidupan bangsa kita dapat disaring terlebih dahulu. Perihal yang baik-baik dapat kita pertimbangkan sebelum menerima, sedangkan perihal yang buruk dapat kita tolak dan kita pelajari bagaimana solusinya agar memiliki sesuatu yang baik pula. Itu adalah bukti bahwa kita memiliki sumbangan pemikiran. Semua dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Jangan alergi dengan kemajuan dunia teknologi dan informasi. Sebagai makhluk yang memiliki kelebihan istimewa dari pada makhluk lain, kita dapat melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan cara yang berbeda. Jika kita tidak mengasihi bangsa ini, siapa lagi yang akan mengasihinya?! Bagi saya nasionalisme juga merupakan bentuk syukur kepada Sang Pemberi Kemerdekaan.
Mencintai tanah air ini dapat kita lakukan dengan mencintai budaya yang terdapat di dalamnya serta dewasa menghidupinya. Isi pendidikan yang patut kita pelajari selain ilmu pengetahuan adalah ilmu sosial. Pengetahuan yang diperlukan bagi kehidupan seperti adat-istiadat, kepercayaan, tata hubungan sosial, yang secara mutlak dianggap sebagai pegangan hidup di masa depan harus diwariskan kepada generasi muda dan kita semua turut menerapkannya melalui pergaulan sehari-hari dan dalam kehidupan rumah tangga. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, segi tata hubungan sosial, yaitu hubungan dengan orang lain memainkan peranan yang penting. Menurut budaya suku saya, dengan terpenuhinya segi-segi pendidikan yang meliputi kepercayaan dan adat-istiadat ini, maka telah seseorang telah dianggap dewasa, artinya telah dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu kedewasaan dalam masyarakat tradisional bukan diukur dari segi pengetahuan. Jika dipikir-pikir, hal ini masih relevan hingga saat ini.
Percaya atau tidak percaya, setiap senerasi muda saat ini kelak akan menjadi pemimpin. Pemimpin di sini dalam arti luas. Kita berhak menjadi pemimpin dalam hidup kita serta menentukan arah dan tujuan hidup kita. Seorang pemimpin harus mampu hidup di bawah tekanan. Pemimpin yang dipersiapkan adalah generasi muda saat ini. Terlepas mau jadi apa atau berbuat apa, setiap kita harus punya prinsip. Siapa yang ingin menjadi besar, hendaklah menjadi pelayan dan siapa yang ingin menjadi terkemuka, hendaklah menjadi hamba untuk semuanya. Tidak boleh ada seorangpun menganggap kita rendah karena kita muda dan prinsip kita yang demikian adalah suatu kerendahan. Apabila itu terjadi, kita harus bisa buktikan bahwa kita tidak salah dan tetap menjadi teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam segala hal yang baik. Sebagai calon pemimpin atau tidak, melayani (bukan dilayani) adalah tanggung jawab. Kehadiran kita juga di dunia ini adalah untuk bertanggung jawab atas dunia. Orang yang paling dekat untuk kita layani adalah masyarakat di sekitar kita. Pelayanan sederhana dapat berupa saling berbagi cerita dan mendoakan tetangga. Tindakan yang lebih nyata lagi yang bisa kita lakukan adalah membantu masyarakat yang kekurangan. Letak nilai yang berharga itu ada pada orang lain. Mereka yang merasakan betapa pentingnya bantuan kita bagi mereka. Memiliki hati yang menaruh belas kasihan pada orang lain, terutama orang-orang sebangsa dan setanah air kita juga merupakan wujud tindakan nasionalisme.
Nasionalisme sendiri boleh radikal asal tidak fanatik. Sikap fanatik justru lebih kental terlihat pada karakter seseorang dari pada radikal. Fanatik dapat mengakibatkan perselisihan dan mengancam keberadaan Bhineka Tunggal Ika bangsa Indonesia. Fanatisme hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu bertoleransi. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari label munafik. Menumbuhkan kembali toleransi tanpa harus mengganggu kenyamanan orang lain dapat dimulai dari sekarang, siapapun mereka dan suku apapun mereka. Keragaman seharusnya membuat kita bangga, bukan tinggi hati atau kita merasa apa yang menjadi milik kita adalah yang paling berarti daripada yang lain. Karena dengan demikian kita akan kaya dan mewarisi semuanya. Semangat mengasihi dan memberi bagi orang lain harus kita tanamkan sejak dini. Tidak pernah ada kata terlambat bagi orang-orang yang mau maju. Jangan pernah ada ketakutan lagi kalau kita ternyata sudah merdeka, sebab ketakutan itu akan menjadi belenggu yang terlalu kuat bagi kita. Kita akan menjadi kaku dan akhirnya tidak dapat bergerak.

Advertisements

Essay Go Field

Essay

APPRENTICE

Perjalanan panjang nan singkat telah kulalui. Cerita indah yang sunyi telah kuisi. Mencari peran di tengah umbaran, berjalan pelan di saat bimbang, mengukir kisah di antara warna, memancang rasa dalam suasana, inilah dia yang terjadi. Pengalaman yang sukar dan penderitaan adalah bagian hidup sebagai manusia, di samping hal-hal yang menyenangkan dan menggairahkan.
Setiap kali liburan panjang, seperti perjalanan peternak bebek musiman pasca panen, demikian halnya seperti liburan-liburan sebelumnya, aku meninggalkan hiruk-pikuk studi untuk mencari ketenangan dan kesenangan dengan berwisata, melakukan ekspedisi, berkarya seni, magang, atau kursus keahlian. Di kost-an, aku sebagai calon mahasiswa musim liburan merencanakan kegiatan: mencari informasi, melihat pengumuman, mengkalkulasi biaya, dan mencatat agenda. Perlu waktu dan persiapan khusus (pembekalan) untuk memutuskan dan melakukan apa.
Dalam banyaknya rencana mengisi liburan, Tuhan memutuskanku untuk hadir pada pertemuan pembekalan IPB Go Field 2009. Melelahkan, namun memberi kepuasan tersendiri bagiku. Hidupku ada dalam rencana-Nya. Saat aku tidak mengerti dan Dia tidak memberitahukannya kepadaku, aku memilih percaya. Percaya itu adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Saat keyakinan dalam nurani kita itu nyata, kesudahan pilihan ada di tangan, kaki telah berjalan, tanggung jawab harus diemban. Akhirnya, liburan panjang kali ini aku mengikuti program magang kampus, IPB Go Field 2009. Hal ini menjadi bukti yang paling baik bahwa setiap kita berhak menjadi pionir dalam kegiatan yang bernada positif dan tidak lagi hanya sebagai follower. Mahasiswa bukanlah anak kambing yang baru lahir.
Memasuki babak baru kehidupan liburan, subuh memberi pikiran yang fresh untuk mengawali satu langkah. Perjalanan jauh dan lama, memakan waktu kurang lebih enam jam termasuk kesasar dan jalan yang lumayan ternganga-nganga, tidak menyurutkan niat kami. Tiba di lokasi, hawa asing yang sangat kental perbedaannya mengusik hati untuk melihat masyarakat kampung tersebut dengan seksama, lebih jauh dan lebih dalam lagi (seperti kata The Master of Mentalis-nya Indonesia). Terasa panasnya entah itu cuaca, entah itu iklim, yang membuat kami ingin berbalik haluan keputusan. Namun, bagi kita manusia tidak ada jalan untuk menjadi orang yang berbudi dan berbudaya selain jalan berolah pikir dan berolah rasa. Liburan sebulan lebih harus dapat dinikmati dengan sehemat-hematnya. Warga kampung menyambut kehadiran kami dengan penuh kehangatan, terlihat setelah kami ada 3 x 24 jam.
Liburan sekaligus magang berjalan. Selama musim panen, kampung itu mempromosikan Tarling (Gitar Seruling) atau lebih terkenal dengan hiburan musik asli Indonesia lewat hajatan. Dari hari ke hari, ada saja yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan bagiku. Tidak mengherankan kalau kami juga menjadi orang yang sangat sibuk, sibuk tidak tahu apa yang harus dikerjakan, apalagi begitu ditinggalkan oleh supervisior kami. Mulai pembekalan sampai hari ketiga di lokasi, dalam pikiran kami, kami masih juga belum mendapat abstrak dari kegiatan. Setelah melewati rangkaian jam hidup, samar-samar mulai terlihat abstrak itu lewat meeting yang sering kami lakukan.
Kehausan kami akan kebutuhan itu disebabkan hasrat bersama yang ingin berbuat lebih banyak. Awalnya, rapat perdana terasa hambar dan sedikit panas. Aku sebagai sekretaris terpilih masih merasa canggung dengan suasana rapat. Aku memilih lebih banyak diam. Kemunculan ide di sana-sini menjadi pertimbangan kami untuk program hari-hari ke depan. Rapat perdana membahas identifikasi/analisis sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) beserta solusi dan ancamannya. Hal ini sangat aplikatif sekali mengingat kami semua pernah mendapatkan disiplin ilmu komunikasi pengembangan masyarakat. Siapa saja dari kami berhak untuk menyampaikan suaranya pada pertemuan. Selain untuk membiasakan diri komunikatif di depan orang banyak, aku juga merasa ini salah satu ajang untuk menuangkan gagasan sekaligus “berkenalan”.
IPB belum matang, tapi kita siap tempur, bukan siap pakai. Adapun yang kami perbincangkan adalah mengenai potensi dan mengelolanya. Tanggal 13 Juli 2009 mulailah rapat perdana. Kami merancang untuk membuat identifikasi/anlisis: SDA, SDM, solusi, dan ancaman. Membuat wacana dengan masyarakat, bahwa kedatangan adalah dalam rangka menitikberatkan apa yang dipunyai fokus pada fisik, untuk masyarakat dan pilot project yang dikerjakan. Tak lupa, demi kewaspadaan sebagai pendatang baru, kami memilih preman kamar. Ilmu/aplikasi baru kami munculkan dan dengan keyakinan penuh, kami pesimis juga untuk mungkin melaksanakannya. Misalnya: pemanfaatan sekam/kayu sebagai briket dan pengolahan mangga.
Pagi hari, kami tim bertiga puluh orang, awalnya, harus mengikuti go field harfiah. Kebun mangga sejauh kurang lebih 45 menit perjalanan bagi seorang pejalan kaki membuat kami tertantang sekaligus senang karena nuansa alam yang masih sangat asri. Belum sampai kami sungguh-sungguh menyadari atau mengetahui betul rute ke sana, kami harus sudah nyasar. Bahkan, pemandangan yang tidak umum sering kami temui karena di mana-mana mata ini sering menangkap hal baru. Dengan berpatokan pada kincir angin buatan pemilik kebun mangga sepuluh hektar, yang juga sebagai “majikan” kami, akhirnya kami pun tiba. Tidak lebih dari delapan jam setiap harinya, kecuali hari Minggu atau hari libur atau hari yang diliburkan, kami berada di tempat penuh inspirasi itu.
Hari kedua pengamatan mulai dilakukan beserta analisis masalah pada hari kelima dengan membentuk kelompok terspesialisasi disiplin ilmu. Dari hasil briefing hari sebelumnya, didapat tugas: desain kandang, pabrik pakan, Rumah Potong Ayam (RPA), dan gudang pupuk. Setelah melihat fasilitas berharga yang rusak, bersaranlah kami agar kiranya kincir angin difungsikan lagi. Untuk pengolahan produk mangga afkir masih tersendat di dalam otak dan sedang ditinjau ulang. Semua rencana yang sudah ada dikerjakan sebisanya dulu dalam bentuk file. Ide “lebay lebah” yang kami canangkan sebagai berikut
a. Kelompok Fapet & FMIPA: membuat sketsa desain2, sanitasi dan manejemen sanitasi.
Kelompok Fateta: olahan mangga → dodol, ice cream, selai, manisan (kering/basah), sirup, tablet, tepung biji mangga dan pengolahan ayam.
b. Kelompok FKH: RPH mencakup sanitasi, pengolahan, limbah, dan GMP.
Kelompok FEM(A): HRD, kelembagaan, pengolahan dan distribusi.
c. Faperta & Fateta: penanganan limbah menjadi pupuk. Limbah mangga menjadi biopori dan pupuk organik. Limbah ternak dijaga sanitasinya dan penjemurannya, dapat juga sebagai pupuk cair.
Tanggal 17 pada bulan itu juga, tuaian dari hasil tunaian kami menganalisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) adalah sebagai berikut:
 Fakultas Ekologi Manusia: Sebagian masyarakat ada yang sudah membuat dodol mangga, tapi kebanyakan dodol nangka. Ibu yang kreatif dan tidak malas jika diberi resep mau saja. Asinan dan manisan juga akan dibuat. Jaringan masyarakat kuat atau tidaknya tergantung kondisi, contoh: hajatan banyak. Harga jual pasar 1500-2000/kg. Keahlian terbatas untuk asinan san manisan. Skala distribusi masih sebatas usaha rumah tangga. Untuk QC (Quality Control), dikatakan jika beda tangan maka beda “rasa”. Solusi pemasaran adalah dengan koperasi dan pelatihan.

 Fakultas Teknik Pertanian: Lebih kepada konsep, bukan wawancara.
• Produk olahan: tahan lama, pembuatan perlu bahan kimia, produk dapat saja kalah saing merk dengan produk lama. Berpotensi untuk disukai masyarakat karena dapat jadi alternatif jajanan sehat.
• Pupuk: meningkatkan produksi pohon mangga. Tanah mencemari tempat produksi. Kegagalan pembuatan pupuk. Perlu pekerja yang berpengalaman. Pembuatan pupuk jangan neko-neko dulu (dalam hal teknologi). Kebutuhan teori dan rekomendasi sebagai referensi sangat penting. Ancaman gulma pada biopori dan tekstur tanah yang tidak menentu. Perlunya bor pelubang.
 Fakultas Kedokteran Hewan: Lokasi peternakan terpadu sudah cukup jauh dari pemukiman penduduk. Sumber air masih ditinjau ulang lagi. Konsep RPA masih bingung, apakah yang tradisional atau yang modern.
 Fakultas Ekonomi dan Manajemen: Pada infrastruktur, akan ada pembangunan jalan. Produk agribisnis biasanya musiman.
 Fakultas Peternakan: Desain kandang sudah cukup baik, ditinjau dari jarak, material, lokasi, pembangunan, dan lain-lain sudah lumayan. Biaya menjadi kendala project ini.
Jenuh dan sedikit bosan dengan kerja yang itu-itu saja, rapat pun digelar. Akhirnya keluar beberapa program modifikasi dengan membentuk tim, yaitu: tim pengajar ngaji dan sekolah dengan koordinatornya: Fitrian (FKH). Tim pasca panen dengan koordinatornya Randy (FEM/AGB). Tim kebersihan desa dengan koordinatornya Maya (Fapet/IPTP) namun akhirnya mengundurkan diri dari Go Field. Tim penggunaan kompor sekam dengan koordinatornya Rizal (Fateta/TIN). Tim Fapet mengenai pilot project dengan koordinatornya Ribka, dari Fapet/IPTP juga. Serta tim pengolahan mangga dengan koordinatornya Anisa (Fateta/ITP). Setiap anggota wajib mengidentifikasi spesifikasi program kerja, memanajemen tim, jadwal, dan kebutuhan serta mencantumkan rekomendasi atau saran-saran. Deadline Rabu, implementasi Kamis.
Rabu, 22 Juli 2009, hasil identifikasi: Pengajaran: 1. Sekolah Dasar. Minta surat dari Kepala Desa, SK Go Field tidak berlaku karena hanya menyangkut perihal pilot project (padahal sebenarnya SK itu serbaguna). Kedatangan mahasiswa ternayata tidak diketahui oleh masyarakat desa sebelah, perlu PDKT pada aparatur desa. 2. Pengajian. SDA (sama dengan di atas). Lima kegiatan perlu direkap untuk legalisasi dalam satu surat keterangan. Kegiatan pengajaran belum bisa jalan karena SK belum keluar. Pasca panen: sudah oke. Paling dekat, besok sudah dapat dilakukan. Membantu pemanenan di jalan menuju kebun mangga. Mekanisme langsung saja ditanyakan sambil berjalan. Warga Tugu (lumayan jauh), ada yang mau, tapi dari kita harus ada pertimbangannya dahulu. Tidak mungkin juga setiap hari sesuai kebutuhan peminat, tapi harus sesuai orang yang tersedia. Untuk bantu2, seadanya saja karena tujuannya hanya untuk membaur dengan masyarakat, manfaatnya adalah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Perlakuannya masih fleksibel.
Kebersihan: gotong-royong pernah dilakukan, minimal 1 tahun sekali. Sampah2 umumnya dibakar selain dibuang ke kali. Parit yang ada bertujuan untuk mengalirkan air dari satu kali ke kali lain untuk mengairi sawah. MCK umumnya lumayan baik, walaupun ada yang masih belum memiliki dan tidak memenuhi standar baku kesehatan. Kegiatan yang berlangsung di sekitar lingkungan rumah adalah: beternak (ayam, bebek, kelinci, domba, atau sapi). Untuk pengadaan aksi bersih perlu dibicarakan dengan tetua desa. Kompor sekam: pernah ada kompor briket, tapi tidak di follow up. Saran, ini sebagai program terakhir bersama-sama dengan aksi bersih/kebersihan. Dijalankan sebagai alternatif pamitan. Mendapat sambutan dari Kepala Desa, untuk rencana workshop dapat menggunakan balai desa. Masalah dana coba dibicaraan dengan LPPM untuk pengadaan minimal 2 buah kompor sekam. Jika ada workshop, waktu 1 minggu sebelum hari H. Sabtu desainnya datang. Pamong desa dipercaya sebagai trainer, mahasiswa tidak sebagai tuan rumah, tapi sebagai pendamping. Perlu adanya buku panduan. Sharing lebih banyak diperlukan dan perlu ada kerabat yang sudah merasakan prototype. Pilot project: sekarang ini fokus pada domba. Malam ini akan dilanjutkan pengerjaan desainnya. Mangga: masih sejauh mencari literatur dan dikerjakan dalam bentuk file.
Sesuai kesepakatan, implementasi menghasilkan point berikut saat dirapatkan: Fokus utama perlu di uji lagi apa yang sudah direncanakan. Keputusan bersama, perbaiki frekuensi kerja. IPB belum matang untuk mengirimkan kita (tapi cukup berani, karena siap tempur bukan siap pakai). Kepulangan leader dan beberapa teman menjadi kendala dan berpengaruh pada kinerja program terspesifikasi. Pertanggungjawaban apa yang telah dilakukan perlu dilaporkan. Semua kegiatan sudah berjalan, perlu evaluasi agar pengorganisasiannya lebih rapi. Untuk kompor sekam diendapkan dulu karena punya hak paten, so biar LPPM saja yang merekomendasikan. Solusi untuk kompor sekam dapat sebagai koboi atau perang posisi. Keempat program sebenarnya sudah bagus dan sama sekali tidak mengurangi fokus dan tepat untuk memperdayakan masyarakat. Final: kompor sekam dibicarakan lagi dengan LPPM, bahwa kita hendak menghubungi Bapak Irzamman, karena waktu sudah banyak penguluran. Program yang sudah pasti: mengajar sekolah, pengajian dan desain kandang, sedangkan yang belum: kompor sekam, aksi bersih, dan pasca panen. Sebagai catatan bagi kami, panen tinggal seminggu lagi.
Lagi-lagi rapat. Sangat benar, untuk melakukan komunikasi yang baik perlu interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena dalam konteks ini, kami berada pada ruang dan waktu yang sama, sehingga rapat yang kesekian pada tanggal 28 Juli 2009 menghasilkan banyak point penting. Sempat kecewa karena LPPM tidak jadi dating dengann alasan ada liputan dokumenter dari Metro TV, salah satu perusahaan televise swasta. Positif supervisi ke Indramayu pada hari Minggu, 2 Agustus 2009. Saran kepada para pengajar anak2: jangan terlalu gaul, harus tegas, jaga perkataan, ajar ilmu dan ajar nilai kehidupan. Kompor sekam dan kebersihan desa akan ditanyakan lagi ke kantor Kuwu. Selama lima belas hari ke depan akan disebarkan. Kemungkinan terburuk akan tidak jalan karena mesih belum ada kepastian, dan belum ada desain. Operasi bersih desa dari RT, 1 Agustus 2009. Pengadaan jam malam, pukul 22.00 WIB. Hari Minggu bebas, tapi sampai jam 00.00 WIB. Interaksi dengan warga di luar rumah. Soal kebersihan rumah/peralatan makan penting. Perlu ada sopan santun tamu/kerabat kita yang datang. Setiap orang berhak untuk mendapatkan fasilitas yang sama.
“Kenyamanan” dalam jam kerja. Tim pengajar yang pulang waktu makan siang tidak diantar. Setiap orang ke kebun kecuali sakit, mengajar sekolah dasar, dan ada urusan2 lain. Sukarelawan yang mengajar SD dan ngaji hari itu, tidak perlu ke kebun, namun bisa datang ke kebun saat mengantar makan siang. Perihal kerja saat di kebun. Sebenarnya bukan ada atau tidak ada kerja. Pekerjaan ada, asal mau bekerja. Rencana, 4 hari lagi akan ada ikan yang masuk dan 9 hari lagi kandang ayam unit I jadi.
Tanggal 29 Juli 2009, sosialisasi kebersihan berdasarkan usul Ketua RT lebih baik dilakukan hari Jumat sore, tetapi dirasa masih kurang efektif, jadi lebih baik hari Kamis dan hari Jumat setelah sholat Jumat. Untuk sosialisasi, dibagi menjadi 2 tim (untuk RT 9, Co: Ari dan RT 10, Co: Rizal). Tujuan pokok sekreatif tiap-tiap tim saja, yang penting mencakup: Kebersihan lingkungan rumah tangga, saluran pembuangan dan sanitasinya, dan penanganan sampah (lingkungan).
Ada informasi bahwa Pak RT sudah mengusulkan untuk membuat TPS masing-masing. Saran lain yang diusulkan oleh kaum intelektual muda ini adalah membuat tempat sampah organik/anorganik. Perlu pencarian literatur untuk teknis penanggulangan sampah di lingkungan rumah tangga dan desa. Keputusan final, Sabtu mulai aksi bersih dari jam 08.00 WIB, jangan sampai telat. Perlunya juklak agar lebih rapi atau semacam leaflet menjadi pertimbangan juga. Hal yang paling penting untuk dapat berinteraksi dalam suatu komunitas masyarakat yang kuat adalah menghindari segala bentuk benturan paradigma saat melakukan sosialisasi dengan masyarakat. Rapat internal preman kamar kembali membahas tujuan utama datang adalah mengembangkan ide/konsep untuk pilot project. Berusaha untuk menerapkan bidang/disiplin ilmu terhadap masyarakat. Hambatan dana dan kejenuhan di kebun harus bisa diatasi bersama. Waktu kerja 08.00-16.00 sudah menjadi kesepakatan, sekreatifnya sajalah di kebun. Nama baik harus kita jaga, sebab kalau kita kerja, nilai plus dari masyarakat itu ada. Selama lima belas hari ke depan melakukan pekerjaan “tukang” dan mempelajari pohon mangga. Waktu keberangkatan ke kebun agar lebih tepat lagi.
Tanggal 31 Juli 2009 kami melakukan briefing tentang sosialisasi (saya tidak ikut, karena mengurus leaflet). Evaluasinya sendiri bahwa leaflet telah dibagikan pada tiap rumah sesuai bagian/tugas/kelompok. Kesiapan untuk diadakannya demo cuci tangan pada anak sekolah harus lebih matang lagi. Apa yang menjadi great will kami mengenai kompor sekam akhirnya menunjukkan sinarnya juga, kompor sekam datang tanggal 10 Agustus. Tanggal 10-12 Agustus sosialisasi tanggap flu burung. Untuk persiapan, besok kumpul jam 07.00 WIB di depan rumah Bu’ Dar dengan warga untuk briefing. Teknis dan pembagian kerja dibagi oleh Pak RT. Lokasi operasi bersih (Opsi) dilakukan di sekolah, madrasah, dan selokan (3 tim). Setiap sisa leaflet yang lalu akan dibagikan lagi nanti saat kebersihan dilakukan. Perealatan kebersihan untuk di sekolah agar diusahakan oleh siswa/i. penggalangan dana untuk empatisasi ke Nenek Ibu Dar dikumpulkan ke Dewi C.
Memasuki tanggal tiga bulan yang baru setelah bulan Juli 2009, kami mengadakan rapat kepulangan beberapa teman dari FKH (mengundurkan diri) dan beberapa teman yang izin dengan urusan akademik. Menuju hari kesebelas, waktu di mana kami semuanya telah lengkap sejak kepulangan teman-teman yang memiliki urusan, mengadakan pertemuan lagi. Penyebaran poster himbauan yang didapat dari teman-teman yang pulang sekitar 150 lembar. Penyebaran poster sudah diizinkan, beberapa orang ke kebun (setengah hari), sisanya jam 09.00 WIB ke SD untuk sosialisasi dan pembagian poster. Yang perlu disampaikan adalah isi poster, hal apa yang akan diperbuat/tindak lanjut siswa/i setelah poster itu dibagi, dan mengingatkan akan adanya sosialisasi kompor sekam. Sosialisasi kompor sekam dimulai pukul 14.00 WIB. Hari Rabu di desa Rancasari, dan hari Kamis di RT 9/10. Kompor sekam sebagai alternatif, bukan solusi. 4 kompor yang didapat rencananya 2 akan dijadikan percontohan bagi masyarakat desa dan RT, masing-masing 1 buah. Rencananya akan diadakan undian setelah sebelumnya konfirmasi perihal yang penting mengenai orang yang pantas. 1 ditinggalkan di kantor kepala desa sebagai master, dan 1 laginya dibuat di kebun.
Mengenai peternakan/perkandangan telah selesai, yang belum selesai adalah pabrik pakan serta formulasi ransum, namun telah dibicarakan dan diberi usulan2/masukan untuk kedua hal itu. Pengolahan limbah sudah ok. Penanganan pasca panen dan pengolahan mangga dengan prioritas objek sasaran pasca panen adalah kebun, sedangkan pengolahan mangga adalah masyarakat. Rencana dua hari ke depan, misalnya: Farewell Party, Indramayu Fair (IF), dan membesuk Pak “Bekel”, bakar ayam dan menginap di kebun menjadi pilihan. Tim sosialisasi poster mengurus lomba-lomba untuk hari Rabu. Agenda keesokan hari yaitu, ke SD, sosialisasi kompor sekam, dan mengadakan lomba untuk anak2.
Sambil berpacu dengan waktu kami berusaha untuk merealisasikannya. Kesemua program bagus dan sama sekali tidak mengurangi fokus serta tepat untuk memperdayakan masyarakat. Waktu yang hanya cukup mengambil kesempatan menapak langkah ke daerah baru juga sangat disyukuri., di sana-sini, foto-foto yang baru dapat dicuci dan dipilih bila sudah pulang. Ada jangka waktu. Tibalah waktunya tanggal 14 Agustus 2009, tanggal di mana hari itu merupakan malam terakhir bagi kami untuk lepas dari semuanya. Namun harapan kami pada hari itu, malam bukanlah pertanda sebagai waktu untuk mengakhiri silaturahmi kami. Malam perpisahan kami lakukan dengan sharing-sharing dan menonton kaleidoskop anak-anak Go Field. Terjadi tangisan dan tawa membahana.
Waktu satu bulan satu hari berlalu begitu cepat. Tanggal yang menentukan kepulangan kami, 15 Agustus 2009 telah tiba. Go home, bukan Go field lagi…. 
Puas dengan pengalaman, kami akhirnya kembali ke Bogor, dan menceriterakan dengan bangga perihal koleksi cerita yang kami miliki masing-masing. Setelah sedia kala, lelah dan sedih membuat aku belum dapat mengagendakan diri dengan sederet tugas yang harus aku kerjakan. Pulang kembali “sedih”, karena kuliah semester berikutnya menanti. 
Thanks Lord for everything….
You’ve blessed us, we will bless You. Go field mean go forth,, Viva IPB !!!

Laporan

M. K. Teknologi Produksi Ternak Babi dan Kuda
Hari/Tanggal: Kamis/27 Agustus 2009

MAKALAH BANGSA KUDA NONIUS

Oleh:
Lenny Romauli M
D14070097

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kuda adalah hewan liar yang telah didomestikasi, telah dikelola oleh manusia dan masih satu ras dengan keledai dan zebra. Sebagian kuda masih ada yang tetap instinctive, yaitu masih mampu bertahan untuk tetap hidup tanpa campur tangan manusia. Pada zaman purbakala kuda diburu dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Namun semakin berkembangnya pola pikir manusia, dengan dirasakannya bahwa kuda dapat membantu pekerjaan manusia, beberapa kuda dijadikan sebagai sahabat, yaitu alat transportasi. Secara tidak sadar, manusia telah mendomestikasi kuda.
Seiring pula dengan kemajuan zaman, manusia melakukan penelitian dan identifikasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari kuda-kuda. Akhirnya, sekarang teridentifikasi begitu banyak bangsa kuda yang terdapat di seluruh dunia yang saat ini justru masih banyak yang belum mengenal banyaknya keragaman bangsa kuda tersebut. Walaupun demikian, hingga sekarang ini kuda masih dijadikan sahabat manusia dalam banyak bidang.
Salah satu jenis bangsa kuda adalah Nonius. Kuda Nonius adalah kuda peranakan yang berasal dari negara Hongaria. Fakta menarik yang dapat dipelajari dari kuda Nonius adalah setelah melalui penelitian. Kuda Nonius adalah kuda yang harus dikenakan songsong pakaian kuda atau yang lebih dikenal dengan breast harness yang berbeda untuk dapat memaksimalkan kekuatan punggungnya.

Tujuan

Makalah dengan studi pustaka dan literatur mengenai bangsa kuda ini dibuat dengan tujuan untuk mempelajari dan memperoleh informasi mengenai bangsa-bangsa kuda di dunia. Makalah ini juga dibuat secara khusus hanya satu jenis bangsa kuda tiap mahasiswa, agar dapat dikenal lebih dekat lagi satu jenis bangsa kuda tersebut, dan akhirnya menimbulkan kecintaan terhadap mata kuliah teknologi produksi ternak babi dan kuda.

METODE

Materi

Bahan yang diperlukan untuk tinjauan pustaka ini adalah buku atau literatur mengenai kuda Nonius beserta gambar-gambarnya, kamus bahasa Inggris, dan situs-situs yang dapat dijadikan referensi pembahasan kuda Nonius.
Alat yang diperlukan untuk tinjauan pustaka ini adalah alat tulis dan buku, komputer, dan media penyimpan data.

Prosedur

Makalah ini dibuat dengan studi atau tinjauan pustaka, baik dari perpustakaan maupun dari internet. Setelah literatur didapat, bahan ini selanjutnya dikerjakan dan dibahas dalam format makalah umumnya.

PEMBAHASAN

Selama Perang Napoleon tahun 1810-an, Tentara Kekaisaran Austria menangkap beberapa kuda jantan muda dari sebuah peternakan di Rosiéres Perancis, termasuk Anglo Norman dan menempatkannya di Mezöhegyes pada tahun 1816. Kuda Senior Nonius ditahan di sana selama 17 tahun sejak 1816. Selama itu, Senior Nonius dikawinkan dengan 368 kuda dan mengakibatkan kelahiran 79 kuda jantan dan 122 anak kuda. Seperti bangsa Furioso, tubuh Nonius yang lebih berat berkembang di pacek/stud Mezöhegyes, yang didirikan oleh Kaisar Josep II. Pada tahun 1814 Nonius dikatakan sebagai kuda jantan peranakan Inggris di luar dari induk bangsa Norman dan hampir pasti berdarah Norfolk Roadster. Berdasarkan catatan laporan, kuda Nonius bukanlah seekor kuda yang menawan hati dan tidak akan memenangkan penghargaan yang sesuai. Tetapi selama enam belas tahun di pacek, Nonius dapat menjadi kuda dewasa yang hebat sekali. Jika disilangkan dengan betina dari jenis yang bervariasi, termasuk Arab, Lipizzaner, Spanish, dan Turki, sama baiknya seperti kuda Hongaria, Nonius adalah kuda dengan produksi kualitas yang baik., yang terbaik diantara kuda yang jika disilangkan dengan kebalikannya. Lewat cara seperti inilah muncul tipe khusus yang sekarang dikenal dengan nama bangsa Nonius.
Selama tahun 1860-an, introduksi darah Throughbred mulai marak. Kebijakan yang menuju peningkatan dua jenis tipe Nonius diberlakukan: pertama, kuda besar yang dirancang untuk kerja pertanian dan kuda penarik kereta. Kedua, yang kecil, kuda yang cocok untuk dikendarai. Akhir-akhir ini, kurangnya kebutuhan akan kuda peternakan, membuat tipe besar Nonius telah digunakan terutama untuk dikendarai. Keahlian untuk menunggang kuda telah lama unggul di Hongaria. Kedua tipe Nonius mengikuti perkembangan zaman dengan perlahan dan perangai yang sesuai kehendak pemiliknya.

ASAL-USUL
Keturunannya sebagian besar berasal dari Inggris atau keturunan asli Inggris, salah satu kuda pekerja berdarah panas yang paling umum. Berdarah panas tidak selalu berarti berhubungan dengan temperatur tubuh, tapi lebih kepada asal/jenis. Ada dua jenis utama yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Kuda yang lebih besar biasanya Mezőhegyesi hitam dan yang lebih kecil dan lebih ramping terutama Hortobágyi chestnut. Peternakan kuda telah menjadi aspek penting dari budaya Hongaria sejak adanya pemukiman peternakan, terutama karena letak geografisnya dan dataran terbuka. Penaklukan Ottoman dimulai tahun 1526, yang melihat masuknya kuda dari timur, jenis kuda padang gurun tradisional yang digambarkan sebagai “oriental.” Kuda Turki dan Arab yang elegan dan reaktif, dan memberi kesan pada kuda Hungaria. Bahkan setelah pendudukan Ottoman Hungaria berakhir pada tahun 1699, catatan antara kuda Hungaria dan kuda Arab tetap ada. Selama tahun 1700-an, pengadilan dan aristokrasi Hongaria mulai mengikuti selera negara tetangga di Barat terhadap tipe Iberia. Spanyol dan negara Neapolis berlomba mengimpor Lipizzaner dan Kladruber yang baru. Kuda keturunan Austria ini dikenal sebagai fitur nenek moyang Spanyol-Neapolis, yang berciri: padat, set leher tinggi, elegan walaupun terkesan berkepala berat, punggung yang pendek, dan lincah. Permintaan yang sangat tinggi untuk para pejabat istana dan aristokrat melampaui produksi oleh peternak swasta, sehingga pada masa pemerintahan Joseph II diinstruksikan pembangunan sejumlah kawasan pembibitan atau stud peternakan kuda.

Nonius Senior
Anak hasil persilangan dengan jantan Nonius memiliki utang nama. Walaupun keturunannya juga jantan, nama induk jantan harus disebut “Nonius Senior”. Nonius lahir pada tahun 1810 di Calvados, Normandia. Jika induk jantannya adalah Thoroughbred Sire Orion disilangkan dengan kuda betina Norman, semua mengatakan Nonius 3/8 bagian merupakan Thoroughbred, seekor kuda Anglo-Norman, yang ditangkap dari Stud Prancis di Rosiers aux Salines pada saat perang Napoleon dan dibawa ke Mezohegyes pada tahun 1816.
Seekor anak kuda dapat dianggap jelek. Jika telah dewasa, kuda jantan dapat mencapai 16.3 tangan tingginya atau setara dengan 163 cm. Apakah kuda Nonius memiliki semua sifat-sifat konformasi – dengan sebuah daftar yang mencakup sebagian besar kegagalan, sulit untuk diketahui. Kualitas keturunannya menunjukkan bahwa ia paling tidak memiliki kepala yang sangat sederhana. Tanpa keindahan khusus jika dilihat, Nonius pada awalnya tidak disilangkan dengan banyak kuda di Mezohegyes.
Pangeran Lobkowitz, yang menjadi pimpinan Mezohegyes pada tahun 1854, menekankan pentingnya memperbaiki jenis dengan membuat karakteristik hewan menjadi homogen secara genetik. Tujuan ini dapat tercapai dengan linebreeding, walaupun dalam satu musim Nonius Senior tercatat tidak berhasil membuahi. Namun dengan lebih banyak eksperimen, Nonius yang berkembang biak lebih banyak muncul sebagai jenis militer tapi elegan untuk dikendarai dan sebagai kuda pengangkut. Pada tahun 1865, kuda jantan Arabian dan Thoroughbred diintroduksi dengan keturunan betina Nonius Senior. dengan harapan mengoreksi kurangnya keseimbangan dan elegan di antara kuda-kuda Nonius.

Kawasan Stud Royal Mezohegyes
Kawasan Stud Royal Hungaria dan Imperial Court, Mezohegyes, didirikan pada tahun 1784 untuk membantu memenuhi permintaan akan kebutuhan kuda. Pada waktu itu Hongaria telah merumahkan 1,5 juta kuda, dengan keperluan kavaleri antara 10.000 dan 15.000 kuda gunung yang baru per tahun. Berbeda dengan kuda untuk pejabat istana dan bangsawan, yang menginginkan kuda yang tangkas, responsif, mengesankan jika ditunggangi untuk upaya militer, lincah mendaki dan untuk berburu dari atas kuda, serta elegan jika dipakai sebagai kereta kuda. Permintaan ini dipimpin oleh Mezohegyes untuk mengembangkan beberapa bibit dan strain yang berbeda: Arab yang dipengaruhi Gidrán, blasteran Furioso-Bintang Utara, dan yang lebih berat lagi Nonius.

PERSEBARAN
Peternakan tua, terkenal, dan besar, yaitu Mezőhegyes dan Hortobágy menjaga kuda untuk berkembang biak tetap di tempatnya. Kedua kawasan pertanian ini menyediakan pakan untuk sebagian besar generasi baru kuda jantan. Selain di Hungaria, galur murni dapat ditemukan di Romania dan Serbia. Persebaran kuda juga dapat ditemukan pada peternakan Izvini di Rumania dan dalam jumlah kecil di Yugoslavia. Kota besar lain sebagai lokasi perkembangbiakan kuda Nonius adalah Vienna, Budapest, Rome, dan Athens. Sedangkan untuk pusat stud-nya ada di Mezőhegyes.

CIRI-CIRI FISIK
Kuda Nonius memiliki temperamen yang tenang, bertubuh solid, gesit, dengan punggung yang kuat, profil wajah cembung dan kuat. Estetika warna rambut bervariasi, ada yang chesnut (variasi corak warna emas, antara emas pucat sampai mendekati merah), bay (kemerah-merahan sampai cokelat gelap), cokelat, dan hitam, kadang-kadang dengan beberapa tanda-tanda putih pada kedua sisi kepala.
Tinggi badan jika diukur dengan tongkat sekitar 155-165 cm. Tinggi jika diukur dari kaki sampai kepala menggunakan pita ukur, sekitar 167-180 cm, lingkar dada 180-210 cm, yang member kesan dalam. Lingkar kaki 22-24 cm, kaki sangat kuat dengan perssendian yang besar dan dirancang khusus/ideal untuk bekerja.

ASOSIASI
Nasional:
– Nóniusz Lótenyésztő Országos Egyesület, Hongaria.
– Hungarian Equestrian Federation (Fédération Hongroise d’Equitation), Holda Utea 1, Budapest V.
Internasional:
– The International Equestrian Federation, FEI (Fédération Equestre Internationale) Avenue Hamoir 38, 1180 brussels, Belgium.

FUNGSI
Awalnya dikembangbiakkan untuk dipakai sebagai draft cahaya dan kuda untuk kelengkapan militer Hongaria. Namun sekarang telah berkembang biak menjadi kuda pertanian yang berguna samapi abad ke-20. Sekarang perkembangbiakan diatur oleh preservationists dan digunakan dalam pertanian, untuk memanfaatkan waktu luang dengan berkuda, dan kompetisi olahraga mengendarai kuda. The Combined Driving World Championships diadakan setiap 2 tahun, dan acara yang paling kompetitif fitur tim dari empat kuda. Popularitas olahraga mengemudi di Hungaria meningkat tajam selama tahun 1970-an dan 1980-an. Dari 6 juara ternama antara tahun 1974 dan 1984, semua kecuali satu orang Hungaria. Nonius lebih lambat dan kurang cocok untuk olahraga berkuda lainnya seperti Dressage (kuda latih) dan lompatannya adalah kuda-kuda ringan.
Kuda Nonius memiliki temperamen yang tenang, bertubuh solid, gesit, dan penopang kuk yang kuat. Saat ini Nonius digunakan terutama untuk pekerjaan pertanian, tetapi beberapa orang berkarir lebih baik/sukses di panggung internasional dengan kereta olahraga. Jika dipelihara untuk hobi, Nonius dapat dijadikan kuda keluarga yang multifungsi, karena hal ini sama-sama dimanfaatkan di rumah atau di bawah sadel. Selain itu, kuda Nonius juga digunakan dalam cavalries. Kuda Nonius memiliki stamina yang kuat, namun mudah untuk ditangani. Karena bawaannya yang kuat namun santai, Nonius, meskipun jarang, masih digunakan dalam rancangan untuk pertanian dan transportasi. Jika benar-benar terlatih, mereka akan merasa nyaman dalam memanfaatkan pelana dan di bawah sadel atau kuk.

PERKEMBANGAN TERBARU
Peran dan popularitas jenis Nonius dipengaruhi oleh masa-masa pergolakan sosial dan politik. Tahun 1900, kualitas utilitarian dan tampilan sederhana Nonius keturunan kuda memenangkan gelar “Kuda Ideal” di Paris Exposition Universelle. Kemajuan teknologi militer dari Perang Dunia II menebabkan Nonius menjadi pengungsi dan kemudian diarahkan kepada pertanian sebagai gantinya. Kerusakan properti, persediaan, dan ternak dari Mezohegyes menderita selama Perang Dunia Kedua itu terus dibangun sejak tahun 1960. Masyarakat komunis Hungaria tidak mendukung untuk menunggang kuda dan antara tahun 1947 dan 1961 kuda-kuda Hungaria itu lebih banyak mati karena pembantaian daripada korban perang.
Upaya untuk menghasilkan kuda Nonius berorientasi olahraga dari jumlah yang ada sebagian besar tidak berhasil, meskipun selama tahun 1970-an menunggang kuda muncul sebagai olahraga populer di mana Nonius bisa unggul. Pada tahun 1989 Nonius Horse Breeders Asosiasi Nasional dibentuk untuk melindungi ras kuda Nonius. Sekarng diperkirakan populasi kuda Nonius sekitar 450 kuda betina dan 80 kuda jantan. Populasi terbesar ditemukan di Mezohegyes, dengan populasi lainnya di Rumania, Yugoslavia, Bulgaria, dan Serbia-Montenegro.
Saat ini pula, berkembang biak dengan memiliki dua jenis. Yang lebih berat dan yang lebih kecil. Kuda yang lebih ringan cocok untuk bekerja menggunakan pelana. Kuda Nonius sedang disilangkan dengan Thoroughbreds untuk mendapatkan kuda dengan sifat yang lebih tenang namun energik, kuat dan cepat namun bertempramen sabar.

CONTOH

1.Kuda Nonius hitam di Mezohegyes, Nonius Stud
Sumber: wikipedia.org/wiki/Nonius(horse)
2.Kuda Nonius dengan corak putih pada bagian wajahnya.
Sumber: http://www.pugmania.homestead.comfilesnonius.
3.Kuda Nonius cokelat-kemerahan (redbrown) betina
Sumber: http://www.riding-adventures-transylvania.compictures
4. Kuda Nonius hitam kebiri
Nama : Haus
Bangsa : Nonius
Tinggi : 163 cm
Lahir : 2004
Status : Kebiri
Sumber: http://www.archimedia.hushow_pic.

5.Kuda Nonius hitam
Sumber: http://www.balkanhorses.com

KESIMPULAN

Nonius adalah bangsa kuda berdarah panas yang berasal dari Hongaria. Keturunannya sebagian besar berasal dari Inggris. Perkembangbiakan diatur oleh preservationists dan digunakan dalam pertanian, untuk berkuda, dan kompetisi olahraga mengendarai kuda. Memiliki temperamen yang tenang, bertubuh solid, gesit, dengan punggung yang kuat, profil wajah cembung dan kuat. Estetika warna rambut ada chesnut, bay, cokelat, dan hitam, kadang-kadang cercorak putih pada kedua sisi kepala. Tinggi sekitar 167-180 cm.

DAFTAR PUSTAKA

Edwards, Elwyn Hartley. 1994. The Encyclopedia of the Horse. Dorling Kindersley Ltd., London.
Macgregor, P., Morris, Jane Starkey, and Lucinda Prior. 1980. The Complete Book of the Horse. The Hamlyn Publishing Group Ltd., England.
Roberts, P. and Richard Rosenfeld. 1994. The Complete Horse. Prion, an Imprint of Multimedia Books Ltd., London.