Laporan Puyuh

Laporan

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Usaha ternak puyuh belum mendapat perhatian yang serius baik dari peternak, pemerintah maupun para peneliti. Hal ini ditunjukkan dengan sangat terbatasnya penelitian-penelitian tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ternak puyuh, sehingga pengembangan ternak puyuh diserahkan sepenuhnya kepada peternak. Padahal ternak puyuh potensial untuk dikembangkan, karena pada umur enam minggu sudah berproduksi, tidak membutuhkan permodalan yang besar, mudah pemeliharaan serta dapat diusahakan pada lahan yang terbatas selain itu belum ada laporan ternak puyuh terserang flu burung (Kaharuddin, 2007).

Namun kelebihannya ini membuat berbagai pihak melupakannya sehingga banyak peternak jatuh bangun dalam mengusahakan ternak puyuh ini. Kendala utama yang sangat dirasakan dalam pengembangan ternak puyuh belum tersedianya bibit puyuh komersil sebagaimana halnya ternak ayam ras. Umumnya peternak puyuh disamping memelihara puyuh penghasil telur konsumsi juga melakukan pembibitan dengan menggunakan puyuh-puyuh yang mereka pelihara. Tapi karena kegiatan pembibitan yang mereka lakukan tidak dilandasi teori dan program yang tepat maka bibit puyuh yang dihasilkan belum terjamin kualitasnya. Untuk lebih jelasnya, maka dilakukanlah praktikum budidaya puyuh.

Tujuan

Tujuan diadakanya praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui cara pemeliharaan puyuh yang baik, kendala dalam pemeliharaan puyuh serta cara menanganinya.



TINJAUAN PUSTAKA

Puyuh

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870, dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia. Puyuh merupakan hewan yang diklasifikasikan pada

kelas : Aves (Bangsa Burung)

Ordo : Galiformes

Sub Ordo : Phasianoidae

Famili : Phasianidae

Sub Famili : Phasianinae

Genus : Coturnix

Species : Coturnix-coturnix Japonica

Adapun yang dapat dimanfaatkan dari puyuh ini adalah telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat, bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya, kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman (Rasyaf, 1985).

Persyaratan Lokasi

Puyuh juga merupakan hewan unggas yang sangat sensitif terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dibutuhkan tempat yang benar-benar kondusif untuk membudidayakannya agar puyuh dapat berproduksi optimal. Persyaratan lokasi yang baik untuk budidaya puyuh adalah lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk, mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran, lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit, bukan merupakan daerah sering banjir, merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik (Rasyaf, 1985).

Perkandangan

Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 oC, kelembaban kandang berkisar 30-80%;, penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.

Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

a. Kandang untuk induk pembibitan. Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.

b. Kandang untuk induk petelur. Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater (kandang indukan). Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).

d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu). Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

Peralatan yang dibutuhkan untuk budidaya puyuh ini adalah Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan (Rasyaf, 1985).

Peyiapan Bibit

Sangat penting untuk diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, yaitu memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu: 1) Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit, 2) Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran, 3) Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik (Rasyaf, 1985).

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang penting untuk diperhatikan dan dilakukan pada budidaya puyuh yaitu meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif, untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
  2. Pengontrolan Penyakit, pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shop.
  3. Pemberian Pakan, ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
  4. Pemberian Vaksinasi dan Obat, pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shop), yang ada di dekat Anda beternak puyuh (Rasyaf, 1985).

Mortalitas

Mortalitas akan menetukan keberhasilan suatu usaha peternakan, karena angkan mortalitas yang tinggi menyebabkan kerugian dinilai dari segi ekonomis. Menurut Togatotrop et al (1977) kematian biasanya terjadi pada periode awal, sedangkan pada periode akhir jarang terjadi kecuali akibat serangan pernafasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas antara lain bobot badan, bangsa, tipe puyuh, iklim, kebersihan, lingkungan, sanitasi, peralatan, dan kandang ( North dan Bell, 1990), serta suhu lingkungan (sugiarti et ai, 1981).

Adapun beberapa penyakit yang biasa menyerang puyuh, diantaranya:

1. Radang usus (Quail enteritis)

Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.

Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus..

Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)

Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.

Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

3. Berak putih (Pullorum)

Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.

Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.

Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.

4. Berak darah (Coccidiosis)

Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.

Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox

5. Cacar Unggas (Fowl Pox)

Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.

Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.

Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.

6. Quail Bronchitis

Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.

Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.

Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

7. Aspergillosis

Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.

Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.

Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.

  1. Cacingan

Penyebab: sanitasi yang buruk.

Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.

Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya (Rasyaf, 1985).

Panen

Hasil Utama pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yaitu produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung. Telur dapat berupa tekur konsumsi dan telur tetas. Telur konsumsi yaitu telur puyuh yang dijual bebas di pasaran, sedangkan telur tetas adalah telur hasil pembibitan dari ternak pembibitan puyuh, hasil utama dari budidaya puyuh pedaging yaitu daging puyuh. Adapun hasil sampingannya antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh (Rasyaf, 1985).



METODE

Materi

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 26 ekor puyuh. Pakan ayam broiler yang berupa dedak jagung, dan air untuk minum. Sedangkan alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 2 sangkar, 2 tempat minum, 1 ember untuk tempat penyimpanan pakan, egg tray, lampu, corong untuk menuangkan pakan, dan alat tulis untuk mencatat data.

Prosedur

Setiap sangkar terdiri dari 13 ekor puyuh dengan perbandingan jantan:betina = 3 : 10. Puyuh yang dipelihara sebanyak 2 sangkar sehingga puyuh berjumlah 26 ekor. Piket dilakukan secara bergilir setiap hari, frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari dengan pemberian minum ad libitum. Telur diambil setiap hari dan disimpan dalam egg tray. Jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya dicatat sebagai data untuk hen day dan hen housed setiap minggunya. Hen day didapat dengan jumlah telur yang ada selama seminggu dibagi banyaknya puyuh setiap saat dikallikan 100 persen. Sedangkan hen housed didapat dari jumlah telur yang ada setiap minggu dibagi dengan jumlah puyuh awal dikalikan 100 persen.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Hen Day (HD) (%)

0,71

5

12,85

Hen House (HH) (%)

0,71

5

12,85

Produksi telur (butir)

1

7

18

IOFC (rupiah)

Telur tetas

Rp 14.310

Rp 12.810

Rp 10.060

Telur konsumsi

Rp 10.950

Rp 9.450

Rp 6700

Impas (butir)

Telur tetas

57

51

42

Telur konsumsi

44

38

27

Pembahasan

Pemeliharaan puyuh yang dilakukan selama ± 3 minggu menghasilkan Hen Day dan Hen Housed yang berbeda pula. Hen day merupakan satuan produksi telur. Produksi telur hen day ini merupakan persentase produksi dalam jangka waktu tertentu yang didasarkan atas jumlah ayam yang ada setiap saat dalam jangka waktu yang bersangkutan (North dan Bell, 1990). Produksi telur yang dihasilkan pada puyuh yang terdapat pada kelompok 5 ini terjadi peningkatan setiap minggunya. Pada minggu pertama hanya 1 telur dalam 1 minggu yang dihasilkan dari sebanyak 20 ekor puyuh betina. Hal ini dimungkinkan karena belum dapat beradaptasinya puyuh jantan dengan puyuh betina. Pada kelompok kami ini, puyuh jantan baru didatangkan dan dimasukkan pada hari kedua sejak pemeliharaan dimulai. Baru didatangkan puyuh jantan tersebut dikarenakan ketersediaan puyuh jantan terbatas. Selanjutnya pada minggu kedua telah terlihat peningkatan hasil produksi telur yaitu 7 butir dalam 1 minggu. Ini berarti hanya 1 butir yang dihasilkan dalam 1 hari. Sedangkan pada minggu ketiga terdapat 18 butir telur yang dihasilkan dalam 1 minggu. Hen day dihitung per minggu, per ekor (per bulan), per hari dan per masa pemeliharaan. Hen day yang menjadi patokan produksi telur ayam yang baik adalah per ekor. Perhitungan hen day ini dapat dilihat keuntungan dan kerugian serta langkah apa yang harus diambil untuk menghindari kemungkinan terburuk. Hen day pada minggu pertama sampai ketiga tidak dapat menutupi biaya pakan, justru kerugian yang didapat. Hen day yang dihitung per minggu belum menututpi sehingga impas yang didapat 0 %. Pada minggu pertama titik impas baru bisa dicapai jika berproduksi 57 butir lagi. Sedangkan pada minggu kedua sebanyak 51 butir dan 42 butir pada minggu ketiga. Produksi telur puyuh diimbangi oleh makanan yang baik juga dengan penanganan yang bagus akan menghasilkan produksi telur dan daging yang baik. Kandungan nutrisi pada makanan juga sangat berpengaruh sekali.Kekurangan suatu zat makanan maka akan dapat menyebabkan turunnya nilai produksi.

Masa burung puyuh berproduksi adalah masa-masa keemasan bagi peternak setelah melewati masa pembesaran yang rasanya melelahkan. Namun, pada praktikum budidaya puyuh kali ini tidak melewati masa pembesaran yang seharusnya dilewati karena puyuh yang kami pelihara telah memenuhi masa untuk berproduksi. Puyuh memiliki kemampuan produksi sekitar 300 butir telur pertahun, sedikit lebih rendah daripada ayam negeri yang mencapai 325 butir telur pertahun, dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayam kampong yang hanya 150 butir telur pertahunnya. Dari hasil yang didapat oleh kelompok 5, jika produksi telur hanya 1 butir perminggu naka dalam satu tahun hanya bias menghasilkan 48 butir. Selanjutnya jika mampu berproduksi 7 butir perminggu, maka dapat diprediksi dalam satu tahun dapat berproduksi sebanyak 336 butir. Namun, jika mampu berproduksi sebanyak 18 butir perminggu maka hasil yang didapat mencapai 864 butir dalam satu tahun.

Banyak faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memelihara puyuh yang sedang berproduksi. Dintaranya adalah : 1). Pakan. Usahakan puyuh terhindar dari kondisi kelaparan agar puyuh dapat berproduksi secara baik. 2). Kondisi lingkungan. Terutama dengan suara-suara yang mengagetkan. Biasanya akan berpengaruh dan membuat stres sehingga produksi menurun. Sebagai contoh pada saat pembersihan feces puyuh agar tidak membuat stress puyuh karena ia merasa kaget. 3). Cuaca dan Iklim. Diusahakan senyaman mungkin sesuai yang dibutuhkan.

Nilai konsumsi pakan pada pemeliharaan praktikum ini adalah sama dalam setiap minggunya. Semua puyuh diasumsikan memiliki bobot badan serta kebutuhan yang sama Hal ini seperti yang dikatakan North dan Bell, 1990 yaitu konsumsi pakan yang diberikan sesuai dengan ukuran tubuh, bobot hidup, tahap produksi, suhu dan keadaan energi pakan intensitas dan banyaknya pakan yang diberikan pada setiap puyuh, yaitu 3 kali dalam sehari sebanyak ± 20 gram sehari. Sehingga biaya pakan yang harus dikeluarkan setiap minggunya pun sama yaitu sebesar Rp. 14.560,00. Terdapat keterkaitan antara nilai konsumsi pakan dengan hasil produksi yang dihasilkan. Apabila peternak mengurangi pakannya sampai seminim mungkin dengan alasan efisiensi harga namun produksi yang dihasilkan bisa menurun. Sebaiknya jangan terlalu menerapkan prinsip ekonomi dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Jatah pemberian pakan memang diperlukan untuk mengatur pengeluaran. Tapi pembatasan yang berlebihan untuk penghematan tentu akan dibalas juga dengan penghematan produksi telur.

Selama praktikum budidaya puyuh, tidak ada puyuh yang mati, berarti mortalitasnya 0%. Hal ini memang terjadi karena pemeliharaan dilakukan dengan baik. Puyuh diberi makan dan minum setiap hari secara teratur. Namun ada beberapa penyakit dan hama yang perlu diwaspadai dalam budidaya puyuh petelur seperti Radang usus (Quail enteritis), cacingan, berak putih, berak darah, tetelo, Quail Bronchitis, Cacar Unggas (Fowl Pox), Aspergillosis (Rasyaf, 1985).

IOFC merupakan keuntungan yang diperoleh selama budidaya puyuh petelur. IOFC budidaya telur tetas lebih kecil bila dibandingkan dengan telur konsumsi, hal ini berarti usaha telur konsumsi lebih menguntungkan. Pada minggu pertama IOFC telur tetas sebesar -14.310 rupiah sedangkan IOFC telur konsumsinya sebesar -10.950 rupiah. Telur yang dibutuhkan untuk mengimpaskan IOFC telur tetas lebih banyak dari telur konsumsi. Telur tetas membutuhkan 57 butir telur lagi untuk mencapai nilai impas antara biaya dan pendapatan. Telur konsumsi membutuhkan 44 butir telur lagi untuk mencapai titik impas. Pada minggu pertama ini memang telur yang dihasilkan sangat sedikit. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah bahwa puyuh tersebut baru saja didatangkan dari peternakan sehingga mungkin baru mulai beradaptasi, makanya hanya sedikit menghasilkan telur pada minggu pertama terus meningkat karena telur yang dihasilkan semakin banyak. Hal ini menunjukkan bahwa puyuh tersebut sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pada minggu kedua dan ketiga IOFC telur tetas berturut-turut adalah -12.810 rupiah dan -10.060 rupiah. IOFC telur konsumsi untuk minggu kedua adalah sebesar -9.450 rupiah kemudian IOFC minggu ketiganya sebesar -6700 rupiah. Semakin sedikit telur yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Pemeliharaan memang hanya dilakukan selama tiga minggu. Kemungkinan apabila pemeliharaan terus dilanjutkan maka nilai IOFC akan semakin besar karena semakin banyak telur yang dihasilkan. Tetapi pasti pada suatu waktu tertentu produksi telur puyuh menurun karena faktor usia dan penyakit, hal ini akan menyebabkan nilai IOFC semakin kecil sehingga peternak mengalami kerugian. Dilihat dari hasil budidaya puyuh petelur selama tiga minggu tersebut maka dapat disimpulkan bahwa budidaya mengalami kerugian karena nilai IOFCnya negatif, bahkan masih dibutuhkan telur dalam jumlah yang cukup banyak untuk sekedar mencapai titik impas.



KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diambil kesimpulan yaitu terdapat beberapa kendala pada budidaya puyuh petelur, antara lain puyuh yang menghasilkan sedikit telur dikarenakan kualitas reproduksi puyuh yang kurang baik, pengaruh faktor lingkungan, umur, manajemen pakan dan kesehatan puyuh. Kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan cara memperbaiki manajemen pemeliharaan dan seleksi terhadap bibit puyuh petelur.



DAFTAR PUSTAKA

Kaharuddin, Desia. 1989. Pengaruh bobot telur tetas terhadap bobot tetas, daya tetas, pertambahan berat badan, dan angka kematian sampai umur empat minggu pada puyuh (Cotunix cortunix japonica). Laporan Penelitian Faperta UNIB, Bengkulu.

Kaharuddin, Desia. 2007. Performan puyuh hasil pembibitan peternakan rakyat di Kota Bengkulu. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. (3): 396 – 400.

North, M. O. and D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th Edition. Chapman and Hall, New York.

Rasyaf, Muhammad. 1985. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius, Yogyakarta.

Rokimoto. 2002. Poultry Breeding/ Genetics.: Inbreed Quail. http://www.the.coop.org [18 Desember 2009]

Sugiarti, T., Suharsono U.D. Rusdi. 1981. pengaruh cekaman panas terhadap pertumbuhan dan efesiensi penggunaan makanan pada ayam pedaging. Lem LPP 1: 9-11.

Suprijatna Edjeng, Umiyati Atmomarsono, Ruhyat Kartasudjan. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Togatotrop, M., H. Basya dan Soemarni. 1977. Performans ayam pedaging periode finisher dengan pemeliharaan lantai litter dan lantai kawat. Bul. LPP. 19: 18-26

Woodard, A.E., H. Abplanalp, W.O. Wilson, and P. Vohra 1973. Japanese Quail Husbandry in The Laboratory (Coturnix-coturnix japonica). Department of Avian Science. University of California. Davis.

LAMPIRAN

Minggu ke-1

  • Hen Day

HD = ∑ telur x 100 %

∑ telur ♀ yang ada setiap saat

= 1 x 100 % = 0.71 %

140

  • Hen Housed

HH = ∑ telur x 100 %

∑ telur puyuh mula-mula

= 1 x 100 % = 0.71 %

140

  • Konsumsi Pakan

♀ 20 x 20 gram x 7 = 2800 gram = 2.8 kg

♂ 6 x 20 gram x 7 = 840 gram = 0.84 kg

  • Biaya Pakan

♀ = 2.8 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 11.200,00

♂ = 0.84 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 3360,00

Rp. 14.560,00

Ket : Harga Pakan = Rp. 4000,00 / kg

  • Hasil Telur

1 butir x Rp. 250,00 = Rp. 250,00

Ket: Harga Telur = Rp. 250,00 / butir

  • IOFC

Rp. 14.560,00 – Rp. 250,00 = Rp. 14.310,00

  • Impas

Impas = Rp. 14.310,00 = 57.24 » 57 butir

Rp. 250,00

Minggu ke-2

  • Hen Day

HD = ∑ telur x 100 %

∑ telur ♀ yang ada setiap saat

= 7 x 100 % = 5 %

140

  • Hen Housed

HH = ∑ telur x 100 %

∑ telur puyuh mula-mula

= 7 x 100 % = 5%

140

  • Konsumsi Pakan

♀ 20 x 20 gram x 7 = 2800 gram = 2.8 kg

♂ 6 x 20 gram x 7 = 840 gram = 0.84 kg

  • Biaya Pakan

♀ = 2.8 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 11.200,00

♂ = 0.84 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 3360,00

Rp. 14.560,00

Ket : Harga Pakan = Rp. 4000,00 / kg

  • Hasil Telur

7 butir x Rp. 250,00 = Rp. 1750,00

Ket: Harga Telur = Rp. 250,00 / butir

  • IOFC

Rp. 14.560,00 – Rp. 1750,00 = Rp. 12.810,00

  • Impas

Impas = Rp. 12.810,00 = 51 butir

Rp. 250,00

Minggu ke-3

  • Hen Day

HD = ∑ telur x 100 %

∑ telur ♀ yang ada setiap saat

= 18 x 100 % = 12.85 %

140

  • Hen Housed

HH = ∑ telur x 100 %

∑ telur puyuh mula-mula

= 18 x 100 % = 12.85 %

140

  • Konsumsi Pakan

♀ 20 x 20 gram x 7 = 2800 gram = 2.8 kg

♂ 6 x 20 gram x 7 = 840 gram = 0.84 kg

  • Biaya Pakan

♀ = 2.8 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 11.200,00

♂ = 0.84 kg x Rp. 4000,00 = Rp. 3360,00

Rp. 14.560,00

Ket : Harga Pakan = Rp. 4000,00 / kg

  • Hasil Telur

18 butir x Rp. 250,00 = Rp. 4500,00

Ket: Harga Telur = Rp. 250,00 / butir

  • IOFC

Rp. 14.560,00 – Rp. 4500,00 = Rp. 10.060,00

  • Impas

Impas = Rp. 10.060,00 = 42.24 » 42 butir

Rp. 250,00

Advertisements

2 thoughts on “Laporan Puyuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s