Menjadi Pribadi yang Berani Memberi

Uncategorized
27-Sep-2011 

Oleh: Lenny Romauli M, Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)

Seruan pembangunan untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh-sungguh masih segar di ingatan saya. Hal itu diucapkan oleh guru saya sewaktu duduk di sekolah dasar sekitar lima belas tahun yang silam. Banyak rangkaian sejarah yang telah ditorehkan para pejuang kita hingga akhirnya udara kemerdekaan dapat kita hirup. Perjuangan yang berat menjadi beban di pundak mereka. Kaum laki-laki pribumi pada masa itu harus siap menanti kematian kapan saja, bahkan untuk hidup saja harus dihantui oleh ketakutan. Namun Yang Mahakuasa masih berpihak pada kita dan dengan sedikit usaha dari orang-orang yang menaruh hati kepada bangsa ini kita merdeka. Benar bahwa kemerdekaan bangsa ini dicapai dengan banyak pengorbanan, mulai dari harta, waktu, tenaga, pikiran, sampai nyawa. Tetapi jika dibandingkan dengan karunia-Nya, hal inilah yang membuat saya bersyukur. Dari semula kita memang telah ditetapkan untuk menjalani semua ini. Apa yang kita dapat sekarang hanyalah anugerah semata. Semua orang-orang yang berkontribusi besar dalam kemerdekaan juga telah dipilih untuk diteladani. Kesehatian telah menyatukan bangsa ini dari berbagai tempat. Itupun terjadi atas ijin-Nya.

Bagi kita manusia tidak ada jalan untuk menjadi orang yang berbudi dan berbudaya selain jalan berolah pikir dan berolah rasa. Sesuatu yang berharga yang tidak akan pernah hilang dari seseorang, kecuali orang tersebut meninggal, adalah budi pekerti yang dimiliki. Kata sederhana tersebut sangat sering kita dengar sewaktu belajar pendidikan kewarganegaraan. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa pekerti yang tidak baik juga akan dikenang oleh orang lain. Perlu diingat yang kita kenang bukanlah yang buruk itu, tetapi imbasnya bagi diri sendiri dan lingkungan kita jika kita berbuat hal serupa. Karakter budi pekerti yang baik telah ditunjukkan oleh pemimpin bangsa ini. Setelah lebih dari sembilan kali pergantian kepala negara, bukan tidak ada kemajuan yang kita rasakan. Dari hal itupun kita bisa petik apa yang bermanfaat. Sesuatu yang berharga telah dipersembahkan untuk negeri ini. Tidak mudah untuk memimpin sesuatu yang banyak maunya, yang banyak tingkahnya, dan yang banyak masalahnya. Kembali tanyakan apa yang telah kita perbuat bagi bangsa ini sebagai koreksi diri.

Nasionalisme bagi saya sangat penting, mengingat saya merupakan bagian dari suatu bangsa yang memiliki kemajemukan. Keanekaragaman budaya bangsa Indonesia dapat dirusak dalam seketika oleh oknum-oknum yang mempunyai kepentingan tertentu. Namun beruntung, masyarakat kita tidak mudah dipecah-belah dalam masalah yang demikian. Ancaman dari luar dan dalam negeri terbukti berkali-kali nyaris merenggut keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Banyaknya pengklaiman budaya dan wilayah Indonesia oleh pihak asing turut memperkeruh sekaligus menjebak. Tetapi rasa saling memiliki justru menjadi pengikat dengan adanya masalah maka kita akan semakin kuat dan waspada. Itulah bukti kita hidup. Walaupun demikian, budaya kita masih terobsesi dengan kecantikan luar. Kita tidak seharusnya seperti itu. Kehidupan yang seimbang seharusnya yang menjadi tujuan utama kita. Kehidupan yang seimbang haruslah dibangun dalam fisik yang baik dan terutama hidup dengan penuh sukacita. Inilah hidup.

Nasionalisme membutuhkan jiwa-jiwa yang rindu kebenaran. Tidak peduli betapapun banyaknya orang-orang di luar sana yang lebih mencintai kejahatan, kita harus bisa tetap menjaga integritas. Dalam bentuk hubungan seperti apapun dan dijalin dengan siapapun, perlu ada kejujuran dan apa adanya. Persahabatan sejati tidak bisa dibangun di atas kepalsuan. Kita harus menjadi diri sendiri, apa adanya. Diri yang tanpa cela, kokoh di hadapan dunia, tapi untuk apa? Kita hanya perlu memberikan yang terbaik dan membiarkan orang lain mengenal kita apa adanya. Melalui budaya, Indonesia dapat dibangun kebanggaan dan keteguhannya lewat kejujuran. Jangan takut untuk membeberkan kejujuran, sekalipun terlihat aneh bagi orang lain. Perlu langkah berani! Tentu saja terbuka dan jujur bukan berarti mengumbar kelemahan diri kepada semua orang, tetapi lebih kepada sikap berani menunjukkan identitas diri kita yang memang berbeda dari bangsa lain. Karena Tuhan menciptakan manusia sebagai karya dahsyat yang paling unik. Sebab itu generasi yang beruntung, jujurlah pada kelelahanmu, mengenakan topeng berat yang menutupi wajah yang dirasa makin berat. Jadilah apa adanya. Jangan paksa membeli tawaran dengan gambaran luarnya, tapi nilai diri yang positif lebih bisa mengikat sebuah hubungan apapun. Sebab memang kita tidak sempurna, tapi terang kita bercahaya di kegelapan dunia. Kita ada dalam kompetisi dunia ini untuk menjaring jiwa yang haus akan kebenaran. Adalah hal yang penting kalau kita mau terlibat secara aktif sebagai perintis.

Dalam pandangan saya, letak pentingnya nasionalisme adalah pada semangat yang terkandung di dalamnya, bukan sebatas wacana paham. Nasionalisme dapat sebagai bambu runcing yang memagari tanah air kita. Segala sesuatu yang hendak memasuki kehidupan bangsa kita dapat disaring terlebih dahulu. Perihal yang baik-baik dapat kita pertimbangkan sebelum menerima, sedangkan perihal yang buruk dapat kita tolak dan kita pelajari bagaimana solusinya agar memiliki sesuatu yang baik pula. Itu adalah bukti bahwa kita memiliki sumbangan pemikiran. Semua dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Jangan alergi dengan kemajuan dunia teknologi dan informasi. Sebagai makhluk yang memiliki kelebihan istimewa dari pada makhluk lain, kita dapat melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan cara yang berbeda. Jika kita tidak mengasihi bangsa ini, siapa lagi yang akan mengasihinya?! Bagi saya nasionalisme juga merupakan bentuk syukur kepada Sang Pemberi Kemerdekaan.

Mencintai tanah air ini dapat kita lakukan dengan mencintai budaya yang terdapat di dalamnya serta dewasa menghidupinya. Isi pendidikan yang patut kita pelajari selain ilmu pengetahuan adalah ilmu sosial. Pengetahuan yang diperlukan bagi kehidupan seperti adat-istiadat, kepercayaan, tata hubungan sosial, yang secara mutlak dianggap sebagai pegangan hidup di masa depan harus diwariskan kepada generasi muda dan kita semua turut menerapkannya melalui pergaulan sehari-hari dan dalam kehidupan rumah tangga. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, segi tata hubungan sosial, yaitu hubungan dengan orang lain memainkan peranan yang penting. Menurut budaya suku saya, dengan terpenuhinya segi-segi pendidikan yang meliputi kepercayaan dan adat-istiadat ini, maka telah seseorang telah dianggap dewasa, artinya telah dapat melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu kedewasaan dalam masyarakat tradisional bukan diukur dari segi pengetahuan. Jika dipikir-pikir, hal ini masih relevan hingga saat ini.

Percaya atau tidak percaya, setiap senerasi muda saat ini kelak akan menjadi pemimpin. Pemimpin di sini dalam arti luas. Kita berhak menjadi pemimpin dalam hidup kita serta menentukan arah dan tujuan hidup kita. Seorang pemimpin harus mampu hidup di bawah tekanan. Pemimpin yang dipersiapkan adalah generasi muda saat ini. Terlepas mau jadi apa atau berbuat apa, setiap kita harus punya prinsip. Siapa yang ingin menjadi besar, hendaklah menjadi pelayan dan siapa yang ingin menjadi terkemuka, hendaklah menjadi hamba untuk semuanya. Tidak boleh ada seorangpun menganggap kita rendah karena kita muda dan prinsip kita yang demikian adalah suatu kerendahan. Apabila itu terjadi, kita harus bisa buktikan bahwa kita tidak salah dan tetap menjadi teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam segala hal yang baik. Sebagai calon pemimpin atau tidak, melayani (bukan dilayani) adalah tanggung jawab. Kehadiran kita juga di dunia ini adalah untuk bertanggung jawab atas dunia. Orang yang paling dekat untuk kita layani adalah masyarakat di sekitar kita. Pelayanan sederhana dapat berupa saling berbagi cerita dan mendoakan tetangga. Tindakan yang lebih nyata lagi yang bisa kita lakukan adalah membantu masyarakat yang kekurangan. Letak nilai yang berharga itu ada pada orang lain. Mereka yang merasakan betapa pentingnya bantuan kita bagi mereka. Memiliki hati yang menaruh belas kasihan pada orang lain, terutama orang-orang sebangsa dan setanah air kita juga merupakan wujud tindakan nasionalisme.

Nasionalisme sendiri boleh radikal asal tidak fanatik. Sikap fanatik justru lebih kental terlihat pada karakter seseorang dari pada radikal. Fanatik dapat mengakibatkan perselisihan dan mengancam keberadaan Bhineka Tunggal Ika bangsa Indonesia. Fanatisme hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu bertoleransi. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari label munafik. Menumbuhkan kembali toleransi tanpa harus mengganggu kenyamanan orang lain dapat dimulai dari sekarang, siapapun mereka dan suku apapun mereka. Keragaman seharusnya membuat kita bangga, bukan tinggi hati atau kita merasa apa yang menjadi milik kita adalah yang paling berarti daripada yang lain. Karena dengan demikian kita akan kaya dan mewarisi semuanya. Semangat mengasihi dan memberi bagi orang lain harus kita tanamkan sejak dini. Tidak pernah ada kata terlambat bagi orang-orang yang mau maju. Jangan pernah ada ketakutan lagi kalau kita ternyata sudah merdeka, sebab ketakutan itu akan menjadi belenggu yang terlalu kuat bagi kita. Kita akan menjadi kaku dan akhirnya tidak dapat bergerak.

Biodata
Nama: Lenny Romauli M
Universitas: Institut Pertanian Bogor (IPB)
Judul Esai: Menjadi Pribadi yang Berani Memberi
Email: lenny_romauli@yahoo.co.id

*sekedar sharing tulisan lama 😀 *

http://kem.ami.or.id/2011/09/menjadi-pribadi-yang-berani-memberi/ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s