Kesempurnaan

http://schemas.google.com/blogger/2008/kind#post, KBBI, Sempurna
05.38 p.m.
Menurut KBBI, definisi sempurna adalah:
1 utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela)
2 lengkap; komplet
3 selesai dng sebaik-baiknya; teratur dng sangat baiknya
4 baik sekali; terbaik
Menurut THESAURUS, definisi sempurna adalah
1 afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama
2 beres, selesai, tuntas;
Menurut Kamus Seasite, definisi sempurna adalah tidak cacat; utuh; lengkap; komplit.
Itu jugalah definisi sempurna yang kuketahui dan kuyakini…
Aku menyadari setelah sekian lama hidup di dalam pembelajaran dan kenyataan, selaiknya di sekolah ada teori, maka ada pula praktik, HIDUPku ini sungguhlah suatu kesempurnaan.
Dulu aku menganggap bahwa apa yang kujumpai tidak pernah menyandang gelar sempurna.
 Yang sempurna hanyalah TUHAN. Demikian.
Tidak ada yang salah. Nyata benar bahwa Dia sempurna adanya.
Namun kini, mataku telah terbuka dengan sebuah pengertian yang baru, bahwa setiap yang kujumpai memiliki kesempurnaannya sendiri.
Suatu keluarga dengan tanpa ibu atau ayah atau kakak atau adik, bukanlah suatu kesempurnaan.
Hidup dalam kekurangan pun bukan kesempurnaan.
Tinggal dengan harus “menumpang” di rumah keluarga yang lain tak dapat dikatakan sempurna.
Memiliki nilai indeks prestasi kurang dari 4 juga tidak sempurna.
Banyak hal-hal yang senantiasa kujumpai dan kusematkan dengan kata “tidak sempurna”.
Ada sesuatu yang selama ini menghalangi pandanganku dari sebuah kata sempurna yang dimiliki oleh apa yang aku alami sendiri.
Bukan dengan mata, tapi dengan hati pula seharusnya aku melihat.
Kenapa aku harus iri, kenapa aku harus marah, dan kenapa aku harus tak mengakui bahwa banyak peristiwa dan hal-hal tertentu bukanlah kepunyaanku?!
Aku harusnya berpikir bahwa tidak semua peristiwa dan hal-hal tertentu yang kualami, mereka juga alami. Kenapa mereka harus iri, marah atau tak mengakui?!
Di sanalah letak kesempurnaan itu. Dia begitu sempurna memilihku untuk tidak hidup dengan “kesempurnaan” (yang kukenal dulu). Menetapkanku untuk tidak pernah melihat ibu kandungku hingga aku mungkin usia 30. Menempatkanku di tengah-tengah tempat yang terasa asing bagiku. Membiarkanku mengalami jatuh cinta pada pria yang tak pernah mencintaiku. Melepaskan seluruh dambaanku akan kasih sayang ibu. Menahan hasrat akan cita-cita besarku.
Semuanya digantikan, digantikan dengan sesuatu yang tak dinyana olehku.
Dia begitu sempurna memilihku mengenalMu. Dan sangat paripurna apa yang telah dikerjakan bagiku. Memiliki Dia saja sempurna bagiku. Dengan seluruh cinta, cipta, rasa, karsa aku bisa menjalani hidup bersama siapa saja, memiliki apa saja, melepaskan apapun, meninggalkan sesuatu, dan mengalami semua yang Dia kehendaki bagiku.
Betapa sempurnanya aku di saat aku ketahui bahwa tanpa ibu pun aku mendapat kasih sayang (mungkin) dari 2 paman dan atau 3 bibi sekaligus. Sangat sederhana, namun butuh waktu yang lama bagiku untuk memahami dan menyadari kedalaman pekerjaanNya.
Yang kumaksud disini adalah PEKRJAAN-NYA yang telah dan akan dilakukan bagiku dan bagimu.
Sebenarnya masih banyak hal yang tidak sempurna.
Bapa itu sempurna dan kita diminta HARUS sempurna sepertiNya. Sulit, tapi Dia bilang harus!!!
Jika kita hendak sempurna, Dia menyuruh kita menjual segala milik kita dan MEMBERIkan kepada orang miskin, dengan demikian beroleh harta di sorga. Tak gampang melakukannya dengan sifat kemanusiaan kita yang terbatas ini.
Sebuah kesempurnaan bisa berubah menjadi ketidaksempurnaan jika dan hanya jika aku tidak memiliki KASIH. Bahkan aku tak akan menjadi berguna.
Segala pengetahuan dan nubuat yang ada padaku tidaklah sempurna. Hal inilah yang sedang terjadi, bahwa aku terlambat menyadari tentang “kesempurnaan” itu sendiri. Bahkan nubuat (visi) yang kubuat tidak rampung. Sudah barang tentu rumpang. Tidak sempurna.
Pengenalanku akan Pribadi yang sempurna belumlah sempurna. Aku tidak khawatir akan hal ini karena NANTI aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Ketaatanku belum sempurna. Sangat jelas aku rasa.
Aku sendiri masih didoakan supaya aku menjadi sempurna.
Diriku belum sempurna. Aku diminta untuk mengusahakannya.
Ketekunanku pun demikian.
Bahkan dikatakan tidak satupun dari pekerjaanku yang didapatiNya sempurna di hadapanNya.
Jika ditelisik lebih dalam, pekerjaanNya lah yang sempurna dan pekerjaanku yang tidak sempurna. Tidak boleh lagi ada bantahan. Titik. Final.
Dengan kesempurnaan jalan-Nya dan kemurnian janji-Nya aku telah memperoleh apa yang dikatakan bahwa “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (1 Kor 13:10)”
Amin.
March 19th, 2015 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s