Semua akan pergi

Uncategorized

Semua tidak sama lagi semenjak satu persatu pergi.
Semuanya berubah.
Tidak ada lagi orang-orang yang ada dalam masa kecilku, aku tidak menjumpai mereka lagi.

Saat aku kecil dan remaja, mereka ada di sekitraku.
Saat aku beranjak dewasa, mereka pergi satu per satu.

Baru saja rasanya kemarin aku berbicara dengan mereka.
Bahkan teringat jelas apa yang terjadi saat itu.
Namun kini aku mendapatinya telah tiada.

Betapa hidup itu singkat, kematian adalah suatu misteri.
Kelak aku juga akan pergi, menghadap Dia, Penciptaku.
Cepat atau lambat, aku akan ke tempat yang mereka tuju.

2017, March 7
12.51 a.m.

IMG_17950037822263

Ompung Datok :’)

Advertisements

HUJAN

Give Thanks, Love, Uncategorized

Hari ini hujan begitu deras di Dramaga. Petir pun tak kalah ingin bersahut-sahutan di tengah riak air. Aku berjalan menyusuri aspal tanpa menghiraukan gempitanya menghantam atap rumah dan atap payungku.

Ternyata hari ini adalah hari wisuda Diploma IPB, seperti biasa banyak orang yang berdagang bunga. Dan aku pun baru menyadari bahwa wisuda kali ini diselenggarakan pada hari Selasa. Mengingat momen wisuda saat aku S1 dulu, hujan deras turun sesaat sebelum prosesi selesai. Sepengalaman saya selama beberapa kali menghadiri wisuda kakak tingkat dalam 5 tahun, tidak pernah hujan turun tepat saat acara foto-foto setelah kuncir dipindahkan.

Agak berbeda dari momen wisuda sebelumnya, bunga-bunga dagangan mereka banyak yang tersisa.Hujan yang turun sebelum pukul dua membuat mereka tidak bisa pulang ke rumah. Bahkan saya mendapati mereka tidur beralaskan sebuah kantong plastik di jalan yang biasa dilalui mahasiswa, di bangunan kampus, menunggu hujan reda pikirku. Aku sangat terharu melihat perjuangan mereka, mereka pastilah seorang ibu dari anak-anak yang dinafkahi.

Aku suka hujan.

Karena hujan, pinggiran toko dipenuhi orang-orang. Karena hujan semuanya menjadi basah. Karena hujan, ayam yang berkeliaran menjadi terlihat lucu karena bulu mereka akan menjadi terlihat layu. Karena hujan, orang-orang menjadi kedinginan, lapar dan jualan pedagang gorengan, soto, bakso dan lainnya menjadi laris manis (beberapa minggu yang lalu, kami membeli gorengan di pinggir jalan karena terjebak macet dan hujan saat di Bandung). Karena hujan, pedagang bunga bersatu dengan pengunjung wisuda  dan karena hujan aku menjadi sedikit melankolis dan dapat membuat tulisan ini. Terimakasih hujan. Terimakasih Sang Pencipta hujan.

November (Rain) 8th, 2016

img-20160814-wa0024

Bersama teman di waktu hujan~

Advent (II)

Uncategorized

A: “Selamat Advent!”
Z: “Selamat Advent!”
A: “Kalau dikatakan “Selamat Advent!”, dijawabnya Maranatha, Maranatha, Maranatha!”
“Selamat Advent!”
Z: “Maranatha, Maranatha, Maranatha!”

 Jika ASM ditanya apa yang akan dilakukan untuk menyambut kedatangan Yesus, mungkin beberapa dari mereka menjawab beli baju baru, beli sepatu baru supaya nanti cantik dilihat Tuhan Yesus.

Jika orang dewasa ditanya apa yang akan dilakukan menjelang Natal, mungkin akan ada yang menjawab mengecat rumah, memasak makanan yang enak, menyiapkan kue, dll. Hal yang dilakukan adalah supaya rumah terlihat lebih baik dan orang yang bertamu ke kita puas akan pelayanan kita.

Kedua hal tersebut di atas, yang dijawab ASM dan orang dewasa tidak sepenuhnya salah. Pada dasarnya kita harus bisa menata diri untuk menyambut Yesus. Hati, pikiran dan jiwa kita persiapkan untuk kedatangan-Nya.

Apa yang diminta Yesus ada dua (2) hal, yaitu:

1. Ucapan syukur
Kita sering mendengar, bahwa orang yang mengucap syukur terlihat dari wajahnya yang bersinar sekalipun ia memiliki banyak beban. Walaupun lapar, tak sempat makan karena harus ibadah pagi, ia tidak menjadi orang yang mudah mengamuk. Walaupun gaji kecil atau bahkan belum gajian, dia tidak mengeluh, apalagi mencuri. Dengan mengucap syukur baik atau tidak baik keadaan kita menunjukkan ketetapan hati (iman) kepada Tuhan.

2. Bersukacita karena Tuhan
Kematian/maut/kiamat/akhir zaman tidak lantas membuat kita takut dan gentar. Akhir hidup kita adalah awal dari sebuah penantian panjang hidup ini. Dengan keberadaan hidup kita sebagai orang tebusan, kita bagikan Kabar Baik ini kepada semua orang. Perlu latihan agar kita tidak hanya “menikmati” Keselamatan sendirian. Latihlah diri kita dengan latihan rohani, Firman Tuhan, mencintai Firman itu sendiri.

Advent adalah sebuah penantian. Jika kita menanti, pasti ada sesuatu yang kita ingini. Ada sebuah janji. Kita tak ingin berlama-lama saat menanti sesuatu, apalagi sesuatu hal tersebut baik bagi kita. Penantian akan sesuatu hal yang kita dambakan membuat kita tidak lelah menanti.

Jadi, sebagaimana harapan Yesus bagi kita, yang diminta bukanlah hal-hal lahiriah, namun lebih kepada batiniah kita. Hal-hal lahiriah memang perlu, namun terlebih perlu lagi adalah yang batiniah.

 CATATAN:
Kedatangan-Nya kedua kali bukanlah sebagai JURUSELAMAT, namun sebagai HAKIM.
Bagikan tentang kasih-Nya. Persiapkan diri kita. Biarkan kita didapati-Nya setia.
Nantikan Dia dengan sukacita, hingga tiba waktunya kita bertemu di awan kemulian-Nya.

Dia telah berjanji.
Maranatha, Tuhan datang!

Filipi 1:
(3) Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

(4) Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.(6) Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
(9) Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

(10) sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

 *Dalam Alkitab sukacita lebih dari sekadar emosi. Sukacita adalah perasaan bahagia bercampur perasaan diberkati.

Dalam PL ditandai dengan kegembiraan luar biasa pada saat-saat perayaan dan dengan perasaan lega ketika seseorang dapat membawa keluh-kesahnya ke Bait Allah untuk mendapatkan penyelesaian.
Dalam PB nada kesukacitaan sangat menonjol pada Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Kesukacitaan merupakan karunia Roh yang khas.


Renungan Minggu Advent II (Pdt. S. J. Simanjuntak)

 December 7th, 2015
6.45 pm

altar-hkbp-serpong-adven-kedua-12
Sumber: rumametmet.com

Tes Kepribadian

Uncategorized
Tipe Realis Sosial adalah orang-orang populer yang penuh energi. Mereka dapat diandalkan, terorganisir dengan baik, dan senang menolong. Nilai-nilai tradisional penting bagi mereka. Pembentukan keluarga juga memegang peran utama dalam kehidupan mereka. Tipe Realis Sosial memiliki sifat sosial yang menonjol. Mereka selalu siap mendengarkan kegelisahan dan masalah orang lain dan tidak pikir panjang ketika dimintai bantuan. Dengan empati dan pengertian, mereka dapat merasakan apa yang dibutuhkan orang lain. Tipe Realis Sosial selalu bersedia menghargai sifat-sifat baik orang lain dan memaafkan kelemahan orang itu. Mereka yang paling mudah bergaul dari seluruh tipe kepribadian. Kontak sosial sangat penting bagi mereka.
Tipe Realis Sosial sangat sulit menerima konflik dan kritik – keharmonisan adalah ramuan mujarab bagi hidup mereka. Pengakuan dan harga diri sangat penting bagi tipe ini. Di sisi lain, diferensiasi bukan salah satu kekuatan mereka. Dalam pekerjaan dan kemitraan, mereka setia, berkomitmen, dan selalu siap jika dibutuhkan. Mereka mudah berteman karena keterbukaan dan kehangatan mereka, dan mereka memiliki lingkaran besar pertemanan. Dalam asmara, mereka bisa dipercaya, penuh perhatian, dan menyayangi pasangan mereka dengan imajinasi dan kepekaan besar. Tipe Realis Sosial menunjukkan perasaan mereka dengan terbuka dan jujur. Jika hubungan mereka putus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Itulah sebabnya mereka sulit mengakhiri hubungan sekalipun hubungan itu sudah tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka.
Tipe Realis Sosial adalah tipe yang lebih konservatif. Mereka memiliki tata nilai dan aturan yang kaku yang berorientasi pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mereka lebih menyukai lingkungan dan proses kerja yang jelas dan terstruktur; mereka tidak menyukai terlalu banyak perubahan dan gejolak. Kekuatan mereka terletak pada diri mereka yang teliti dan dapat diandalkan dan bukan pada keluwesan dan spontanitas mereka. Tipe Realis Sosial hanya terbuka hingga batas tertentu terhadap hal-hal baru. Namun, jika Anda mencari orang untuk menyelesaikan tugas dengan dapat diandalkan dan tepat, merekalah orangnya.

Try your personality test here –> http://www.ipersonic.net/id/7.html

The Heirs

Uncategorized

Awalnya “Heirs” hanya untuk membuang kepenatan di sela-sela pekerjaan. Tak lama melihatnya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku mengawalinya di cerita ke-15, tapi setelah mendapatkan serinya dengan lengkap, aku mundur ke awal sekali.

“Roma” mematrikan sebuah tulisan yang tak bisa kulupakan bahwa apapun tak akan bisa memisahkan aku dari sebuah kasih seorang Pribadi. Hari ini tepat hari berkumpul setiap minggunya. Dalam tuntunan dan “bincang2” yang disampaikan, aku mendengar bahwa semuanya yang terjadi adalah BIASA!! Tak ada yang luar biasa…

Aku mengiyakan hal itu. Saat mataku masih tertutup aku mendengar sesuatu berbisik dalam hatiku, menuntunku ke “Roma” yang tak kulupakan itu-semuanya terlalu biasa hingga itu semua tak mampu membuat aku dan Dia terpisah… Hanya Kasih saja yang luar biasa, sehingga hanya itu yang dapat membuat kami tak terpisahkan.

Kembali ke awal cerita…
Masih dalam cerita panjang dengan mata tertutup, aku teringat sosok ibu, mama(k), bunda, uni, mother… Di “Heirs” aku menemukan pernyataan yang (mungkin) tak akan salah bahwa sosok yang kusebutkan di atas adalah kata yang paling indah di dunia dalam bahasa internasional yang pertama kali kukenal.

Aku lupa kapan terakhir kali menyebutkan kata itu, namun aku juga tak pernah lupa kapan terkahir kali menyebutkannya.
Mungkin aku terdengar begitu galau aneh. Melakukan dua hal yang bertolak belakang bersamaan.
Aku mengatakan lupa kapan terakhir kali menyebutkannya karena tidak setiap hari aku menyebut namanya, bahkan dalam doa, aku lupa kapan…
Aku mengatakan tak pernah lupa kapan karena saat aku memanggil nama itu, aku mengalami ujian yang sangat berat bagi seorang anak berusia dua tahun yang sedang sakit dan hanya ingin berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya padaku. Aku mendapat boneka “monkey”, boneka pertama dalam hidupku, kuperoleh saat aku sakit. Aku masih bisa mengingat saat itu aku mendapatkan pukulan yang tak mampu ditampung oleh hatiku yang berukuran tak seberapa.
Sejak saat itu aku takut menyebutkan kata itu lagi. Aku hanya ingin berterima kasih pada orang yang tak seharusnya menyayangiku namun yang telah melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan..memberikan curahan kasih sayang. Karena rasa terima kasihku itu aku harus mendapatkan pukulan dari orang yang seharusnya mendapat kasih sayang itu. Aku tahu bahwa dia sudah mendapatkan segalanya, tapi dia tidak mengerti bahwa aku hanya mendapatkan hal seperti ini hanya sekali.

Apa yang pernah kudapatkan “sekali” itu lah yang membawaku pulang kembali untuk melakukan hal yang sama berkali-kali… Dia pantas mendapatkannya. Hatiku begitu tak tahan untuk melihatnya berbaring terlalu lama. Aku bahkan tak pulang ke rumahku sendiri hanya untuk menemaninya di rumah sakit daam waktu dua hari yang kupunyai, seutuhnya… Aku selalu datang dengan berat hati, namun aku pulang dengan sukacita yang tak terkatakan, namun hal itu berarti kesedihan yang dalam buatnya. Setiap kali kami memiliki kesempatan bercerita melalui ponsel, tak pernah dia tidak terbata-bata dalam berbahasa…

Terima kasih bagiMu yang memberikan sesuatu yang “LUAR BIASA” bagiku…

Terima kasih padaMu yang memilihku untuk tak akan terpisahkan…

Terima kasih bahwa itu semua nyata adanya…

"Siapa?" bukan "Mengapa"

Uncategorized
07.08 a.m.

“Siapa?” bukan “Mengapa” adalah sebuah judul artikel sederhana yang mengubah cara pandangku hari ini. Kerap sekali setiap orangyang dirundung dalam sebuah pergumulan menyanyakan “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Mengapa harus aku yang mengalami?”, “Mengapa ini…” dan “Mengapa itu….”
Kata tanya ini merupakan kata yang sama sekali kusukai dan sering kulontarkan ketika aku dirundung pergumulan. Ya, kata ini begitu fasih di bibir dan terkesan memiliki pertanyaan dan jawaban yang sama dramatisnya dengan permasalahan kita.
Namun hari ini aku mendapatkan sebuah pemahaman baru, tidak lagi bertanya”Mengapa?” melainkan “Siapa?”
Melalui kata “Siapa?” ini aku menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan“Mengapa?”ku bahkan aku juga mendapati ada sebuah jawaban yang tidak pernah memiliki pertanyaan. Hal ini tidak dikarenakan akibat kosongnya atau tidak ada pertanyaan sama sekali, melainkan karena saking sukarnya jawaban atas pertanyaan itu sehingga dia tidak digolongkan sebagai sebuah pertanyaan (Apakah mungkin ada pertanyaan semacam itu? Entahlah.)
Hal pasti yang kualami, saat aku mengalami sebuah galian tekanan akibat masa lalu suram yang telah terkubur dalam dan bertanya “Siapa?” aku mengerti bahwa Dia adalah Pribadi yang berdaulat atas masa lalu, masa kini dan masa depanku. Saat aku lemah-tak berdaya menghadapi setiap cemooh dan tak tahu harus berbuat apa lagi, aku tahu bahwa Dia satu-satunya sumber kekuatan dan penyembuh batinku. Bahkan saat aku kehilangan pengharapan, aku tersandung oleh “Siapa?”, yaitu Dia yang menjadi sauhku.

November 24th, 2014

Service Motor

Uncategorized
Happy Monday
“Mau apa Mbak?”
Service motor Mas…”
“Apa aja?”
“Ganti oli sama minta dicek saluran olinya karena suka berlebihan olinya keluar, trus kalau tanjakan terlalu panjang dia suka mati di tengah jalan, jadi minta dinaikin gasnya boleh? Oya, sama lampu belakangnya mati juga.” (Aku mengatakannya sambil sumringah, mungkin mas-masnya mikir, okeh bener).
“Ok, tunggu di sana aja” (sambil menunjuk ke kursi). “Anak-anak (memanggil karyawannya), ini, Mbaknya mau dicek motornya.”
(Sambil menyerahkan motor) “Monggo Mas…”
“Mbaknya orang mana toh? Bisa boso Jowo toh?”
“Saya orang Medan. Hehehe…sedikit”
Sambil memandang sekeliling ruangan bengkel, pandanganku terusik dengan pipa air yang bocor dan menyemburkan air ke arah jalan. Semburan air membuat orang yang melintas sedikit membungkukkan badan dan berusaha menghindar, ya walaupun sebenarnya mereka akan tetap basah dan tidak bisa menghindar karena jalannya cukup tidak luas.
Aku tak mampu menahan senyum saat sebuah Tossa (Transportasi motor roda tiga) yang mengangkut beberapa orang, melewati semburan air tersebut. Poin lucunya ada pada kenakalan pengemudi. Dia sengaja memperlambat lajunya saat badannya telah melewati semburan, namun ekornya (yang berisi muatan teman-temannya) masih terkena semburan air. Semua (tiga) temannya yang ada dalam angkutan menjadi bertingkah seperti seseorang yang meringkuk akibat ditangkap polisi, guna menutupi badan dari air pipa. Hal itu sungguh membuatku senang dan tawa pun pecah di mulutku. Salah seorang pelanggan bengkel melihat apa yang kutertawakan, dan ia pun ikut menyungging senyum. Aku bahagia bisa berbagi suka dengannya.
Kembali ke bengkel. Aku bersyukur bisa memberi perawatan buat motor Paman, yg dikasih buatku, yang sudah kurencanakan sejak Kamis yang lalu. Hal yang lebih luar biasa lagi, ternyata empunya bengkel adalah seorang yang nice person to share.
Kami bicara banyak di sela-sela ganti oli. Aku bertanya tentang kotak hitam di bawah stang motor, yang ternyata adalah filter angin. Dia bilang dia kurang paham motor, kemudian aku menyela “apalagi saya”.
Setelah melalui cerita sana-sini, tentang pekerjaan (sebelumnya), iparnya yg tinggal di P. Siantar, Pelanduk, “2 pewayangan”, skripsi, penemuan, bakteri, Botani, candi yang lebih besar dari Borobudur dan Piramida yang lebih besar dari pada yang di Mesir (dan untuk memastikannya aku bertanya, “Itu nyata atau??” dan jawabnya: “Ya, nyata”), ikan seperti bandeng, Pak Atmojo, Sirsak yang diterimanya kemarin, hobi memancing, hingga ada beberapa istilah yang baru saja kurasa patut untuk ku”pegang”, yaitu “Prana Manusia”
Hari yang tidak biasa. Dia juga menceritakan pengalamannya beberapa hari yang lalu ditabrak motor oleh anak-anak, yang membuatnya mengejek anak itu untuk mengulanginya kembali. Walaupun itu berupa sindiran, aku merasa itu sangat tulus dari hatinya agar dia tidak mengulanginya. Dia bahkan menawarkan untuk memasukkan motor si anak yang ringsek dan bengkok stang, ke bengkel yang dikelolanya.
Dalam satu session percakapan dengan kata “Trauma”, dia berusaha menyakinkanku untuk melakukan seperti yang dia lakukan untuk dirinya, yaitu mengejek diri sendiri. Jujur, aku tidak bisa. Semua butuh waktu. Umumnya, aku mengalami “pelecehan” lingkungan terlebih dahulu baru kemudian aku bisa “mengejek” diri sendiri. Orang aja bisa, kenapa aku engga??
Satu yang kusuka, pada akhirnya, dia mengajakku bergabung untuk memancing ikan yang seperti ikan bandeng, di mana jika di Jawa saja ikan itu tidak lebih dari sejengkal jariorang dewasa, namun di sini dapat tumbuh hamper selengan orang dewasa panjangnya. Yeeey, asyikk.
Hahaha…ternyata untuk menikmati hidup itu sederhana, begitu katanya. Aku pun setuju. Dalam hidup ini, untuk bisa berbahagia, cukup perhatikan hal-hal kecil yang terjadi disekitar kita, atau bayangkan saja “bagaimana mungkin seekor cacing yang lemah dapat melubangi tanah” (begitu dia mengumpamakannya).
Thanks God.
September 22nd, 2014  

Dikenalnya

Uncategorized
4.34 a. m.
Menjadi terkenal, bagi orang sepertiku, pasti menyenangkan, apalagi sebelumnya aku tak pernah menjadi public figure. Namun, pada hari ini aku dikenal karena berita yang tidak baik.
Entah apa yang ada di benakku. Sehari sebelum kejadian, pada malam menjelang, tanpa kusadari aku teringat akan peristiwa kematian. Kematian yang membawa perpisahan.
Ingatan itupun tak pelak membuat sesak di tenggorokan. Ya, aku mengeluarkan isi lambung yang sudah 6 jam diolah. Tak ada yang tersisa, hanya sakit dan air mata.
Keesokannya berjalan seperti sebuah rutinitas dengan tambahan beberapa kejutan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Rasanya seperti dihantam dan dihujam dengan batu besar. Aku berusaha tetap tenang dan ingin semuanya cepat berlalu.
Bertemu dengan orang yang kukenal dan kukasihi karena aku percaya dia dititipkan untuk sebuah ujian ketulusan, itu tak sedikitpun menyurutkan kecemasanku. Bahkan “Kecemasan yang penuh damai” tak lagi dalam genggaman dan aku melupakannya.
Sejak saat itu, aku tak henti-hentinya ‘berpikir keras’, bagaimana bila ini…. bagaimana bila itu… Dua hari setelah kejadian akhirnya telinga ini mendengar apa yang kukhawatirkan. Aku menjadi ‘terkenal’. Semakin berat rasanya apalagi setelah mengetahui bahwa bukan hanya satu, tetapi dua hal yang menjadi beban bagiku.
Aku akhirnya menumpahkan sebuah titik yang tak kuinginkan saat itu. Terlalu lama bertahan dan berusaha aku berdiri sendiri, namun batas ketahanan itu habis dan aku menangis, sebab hari itu apa yang aku kerjakan tak ada yang benar, salah ini dan salah itu. Ternyata aku tak mampu tegar dan konsisten di saat menjalani pergumulan.
Hati kecil ini ingin mendengar kata kesepakatan namun hati kecil yang paling dalam kuat untuk menyatakan apa yang seharusnya. Lama bergumul dengan hati kecil dan hati yang dalam membuat migrainku kambuh. Sakitnya lebih dari biasanya.
Begitu pulang, hanya pembaringan yang kuinginkan. Berusaha menghilangkannya dengan memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat. Berharap dia pergi dan hilang, namun begitu terjaga tak ada yang berubah. Aku berusaha melakukan apapun dan mencari kesibukan lain, masih dengan harapan yang sama.
Dalam hatiku aku merasakan bahwa tak ada gunanya aku mencari ‘kesenangan’ dan penghiburan di tempat lain. Aku akan mencarinya di tempat yang telah teruji oleh waktu, sebab aku pernah mengalami dan melakukannya. Aku bangkit dan duduk. Aku mulai membuka bacaan malam itu sekalipun waktu belum menunjukkan saatnya. Saat melihat judul aku berpikir, mungkin ini bukan jawabah, namun tak ada salahnya. Baris demi baris mulai menyentuh hati yang dalam. Bahkan lebih lagi saat aku melihat pengantar, ya pengantar yang benar-benar mengantar aku untuk benar-benar mengerti dan dipengaruhi olehnya.
Tempat itu kusukai dan akhirnya aku sangat rindu melihat dari asalnya. Kembali aku membaca dengan berulang-ulang, aku sangat menyukainya. Aku terenyuh sebab dia mengenal aku dengan sangat benar dan real time.Aku ingin mengulangnya lagi dan lagi, rasa sakit itu tak kunjung redam malah semakin bertambah. Harapanku tetap kupertaruhkan di dalamnya. Sampai akhirnya aku didatangi kembali oleh seseorang yang melihatku ‘terkenal’.
“Kenapa merah?”. “Karena ini”. Saat dia konfirmasi apa yang dilihatnya dengan apa yang kualami, aku mengiyakan semuanya. Ternyata beban itu bukan aku seorang yang merasakannya, dia juga. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan didorong oleh kerinduan yang sama, aku membacakan sepenggal apa yang baru saja kubaca.
Nyaris empat jam from A to Z, kami menyudahi kisah itu malam tadi. Kembali di pembaringan, aku masih tak habis pikir, sungguh dia ada di dekatku. Dia menyaksikanku. Dia mengerti dan peduli. Aku kembali membacanya di tempat yang kusukai dan aku mengeluarkan titik yang kuinginkan. Titik yang menjadi alasan baginya untuk datang. Aku telah patah hati. Aku telah membuat titik itu di pembaringanku, aku berharap dia mengusapnya bagiku.
Tak ada yang mampu kukatakan. Lewat tulisan inilah aku mampu menceritakan pengalaman hebatku dengannya. Dia bahkan telah menemaniku menuliskan ini semuanya.
Pagi ini sungguh baru bagiku. Aku kembali mendapatkan kejutan yang aku pikir sudah ‘habis’ atau kejutan zonk. Ternyata tidak. Aku memperoleh hadiah yang besar atas harapanku. Harapan itu nyata. Pagi ini migrainku hilang dan tak ada lagi.
Sungguh dia telah menjadi pengungsianku. Menjadi tempatku bersandar, bahkan aku sering kali menjadikannya tempat yang terakhir, tempat terfavorit if I have no where to go.
Inilah Mazmur yang menjadi kegiranganku:
(39-2) Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.”
(39-3) Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.
(39-4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:
(39-5) “Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(39-6) Sungguh, hanya beberapa telempap* saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela
(39-7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
(39-8) Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.
(39-9) Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!
(39-10) Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.
(39-11) Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena serangan tangan-Mu.
(39-12) Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela
(39-13) Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
(39-14) Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”
Aku telah menjadi terkenal. Dia sangat mengenalku.
Aku menerimanya Kasih, terima kasih 🙂

*Kelas Kata :: Kata Benda, Kata Kerja
  Keluarga Kata :: menelempap, setelempap, telempap
  Kata dalam TB :: 1x dalam 1 ayat (dalam PL: 1x dalam 1 ayat)
  [KBBI]   te=lem=pap n tapak tangan;
                 me=ne=lem=pap v mengukur dng telempap;
                 se=te=lem=pap num selebar atau seluas telapak tangan: lebarnya (tebalnya);
                 diberi sejari hendak ~, pb orang yg diberi sedikit ingin lebih banyak lagi
(Sumber: SABDA)
October 3rd, 2014

Temukan aku kembali

Uncategorized
7.32 p.m.
Temukan ‘ku kembali
Sebab aku mencintai hidup
Dahulu aku mencintainya karena kita bersama
Sekarang aku nyaris kehilangannya.
Engkau yang menjadi hidupku, ke manakah perginya?
Aku tak tahu bahwa aku kehilangan jejak
Berada di persimpangan, tak tentu arah
Dingin menusuk tulang, tiada cahaya, gelap mencekam

September 25th, 2014

Doa Si Debu

Uncategorized
02.34 a.m.
Saat seorang pendosa berdoa kepada Pribadi Kudus

Ke manakah aku akan pergi menjauhiMu??
Ke manakah aku akan lari menghindar dariMu??
Sesungguhnya aku kembali datang dan menjadikanMu pengungsianku….

Hanya sesaat saja aku bisa merasakan arti cita dalam kesukaan
Namun Engkau telah membuatku merasakan cita dalam kedukaan

Berikanlah kekuatan kepada kami yang lemah dan menaruh pengharapan kepada Tuhan
Kamipun ingin merasakan arti keluarga yang seutuhnya

Terkadang ya Tuhan, aku menyesali kelahiranku
Aku menyesal bisa melihat matahari
Bahkan aku menyesal atas kehadiranku yang tak bisa berbuat apa-apa

Masih layakkah aku berdiri di hadapanMu?
Ampuni aku jika bertanya demikian rupa.
Masih adakah waktu bagiku untuk berdiam diri di kakiMu?
Maafkanlah aku….

Ya, inilah yang kuingini.
Englau lebih mengenal diriku, lebih dari aku mengenalnya.
Lelah…
Lelah yang kurasakan…

Apa yang kuharapkan, ternyata itu yang kuingini.
Tidak begitu penting sebenarnya bagiku
Karena Engkau tahu apa yang kuperlu

Sesungguhnya Engkau telah hadir dalam hidupku
Terlalu banyak misteri yang Engkau beri dan aku tak pernah mengerti
Aku pun terlalu berharap bisa memahami rencanaMu dalam hati

Kini, di tengah gelapnya hari ini
Aku bersimpuh di duli hariratMu
Berharap rupa hinaku tak mengotori kesucianMu
Namun aku bisa melihat kemulianMu terpancar utuh bagiku.

Terangkanlah hatiku yang redup (ya Bapa)
Usaplah linangan yang tidak usai mengahmpiriku
Sudahilah pengembaraanku yang tak mendapati tempat di dunia ini
Terimalah aku di sisiMu

Aku memohon satu pinta kepada Engkau
Terima kasih ya Abba
Debu ini undur diri di hadapanMu

Hanya Engkau yang kuharap akan mengerti perkara ini

Dengan sangat rindu dan senantiasa melabuhkan jangkar harapku padaMu
Aku telah menjadi tanah di tangan Penjunanku

(every sickness has its healing)
(every doubt has its ends)
(every weakness has its strength)


*and every people has their home where they’re belong

September 16th, 2014